Selasa, 11 Februari 2020

Anregurutta Ambo Dalle Tokoh Pendidikan Islam di Sulawesi Selatan


Resensi Buku (Bagian 2)
Peresensi Buku : Suherman Syach
Judul Buku : Anregurutta Ambo Dalle: Maha Guru dari Bumi Bugis
Penulis Buku : H. M. Nasruddin Anshory Ch.
Penerbit : Tiara Wacana Yogyakarta
Tahun Terbit : 2009
Tebal : 180 halaman





Kharismah gurutta Ambo Dalle menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk datang ke Mangkoso menuntut ilmu agama Islam. Waktu yang relatif singkat, MAI Mangkoso berkembang dengan pesat. Anregurutta mengelola MAI mengacu pada realitas sosial budaya masyarakat. Karena masyarakat berhadapan dengan masalah moral, maka gurutta lebih fokus pada pengajaran akhlak berdasarkam Al- Quran. Selain al- Quran sebagi referensi utama, diajarkan juga tafsir, hadist, tauhid, fiqih, ushul fiqih dan sejarah Islam. Anregurutta berhasil memimpin pesantren dengan prinsip melaksanakan pembaruan nilai Islam dengan tidak meninggalkan khasanah budaya Bugis. Di arena kultur dan tradisi bugis, Anregurutta bisa menerjemahkan agama Islam secara pas dengan memunculkan simbol baru yang diterima semua kalangan.





Pada bagian keempat, penulis membahas terkait sejarah berdirinya salah satu organisasi berpengaruh di Indonesia khususnya di Sulawesi Selatan, yaitu DDI. Singkatan dari Darud Dakwah wal- Irsyad. DDI merupakan perwujudan pengembangan MAI Mangkoso. Nama DDI adalah permufakatan alim ulama ahlisunnah wal jamaah di bawah kepemimpinan Anregurutta Ambo Dalle. Melalui DDI, Anregurutta menyatukan seluruh potensi MAI yang ada di daerah dan menatanya untuk membenahi sepak terjang umat Islam bagi masa depan Sulawesi Selatan. Pada bagian ini, penulis mengisahkan bagaimana situasi sulit di tengah berdirinya DDI, yaitu terjadinya pembantaian yang dilakukan pasukan Westerling di Sulawesi Selatan.





Pada bagian keenam dari buku ini, penulis mengisahkan dinamika dan peristiwa yang terjadi dalam organisasi DDI. Termasuk rentetan peristiwa yang dialami DDI ketika Anregurutta berada di dalam hutan kurang lebih 8 tahun lamanya. Selama ditinggalkan Andregurutta, DDI telah melakukan empat kali muktamar. Peristiwa yang mengharukan terjadi pada muktamar DDI ke- 10 pada tahun 1965, ketika Anregurutta kembali dari hutan dan terpilih kembali memimpin DDI. Muktamar ini sempat disabotase oleh orang-orang PKI kala itu. Pada muktamar berikutnya, penulis menggambarkan jika dalam tubuh DDI mulai muncul persaingan pengaruh. Khususnya bagi tokoh DDI yang terlibat politik praktis. Salah satu isu yang diperdebatkan dengan sangat alot adalah masalah lambang DDI.





Pada bagian akhir buku ini, penulis membeberkan keberhasilan dan pengaruh Anregurutta Ambo Dalle dan DDI dalam mengemban visi pendidikan, dakwah dan sosial di Indonesia. Mengutip pernyataan K.H. Syamsul Bahri, seorang santri dan sahabat Anregurutta Ambo Dalle menyatakan bahwa DDI telah tersebar ke 14 provinsi di Indonesia dengan berbagai lembaga pendidikan berbentuk pesantren atau pun madrasah. Selain madrasah, DDI juga telah mendirikan perguruan tinggi Islam, Univeraitas DDI yang berpusat di Parepare. Fakultas Tarbiyah UI DDI dibentuk di Pinrang dan Fakultas Syariah di Mangkoso. Sementara, Fakultas Tarbiyah di Parepare di integrasikan menjadi Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin. Ini lah menjadi cikal bakal IAIN Parepare yang ada hari ini.





Buku ini terasa sempurna karena dikuatkan dengan kata pengantar dan epilog dari tokoh terkemuka yang juga bagian tak terpisah dari DDI, yaitu Prof. K.H. Alie Yafie, Prof. Dr. Nurhayati Rahman dan Dr. Anhar Gongong. Ketiga tokoh ini memberikan penguatan dari fakta dan peristiwa sehingga menambah khasanah pengetahuan yang tertuang dalam buku ini. Kekurangan buku ini karena penulis buku seringkali mengungkapkan fakta sejarah secara berulang dan tidak menguraikannya secara sistematik, sehingga menimbulkan kebingungan pembaca dalam memahami sejarah dan peristiwa. (Terakhir)


Senin, 10 Februari 2020

Anregurutta Ambo Dalle Tokoh Pendidikan Islam di Sulawesi Selatan


Resensi Buku (Bagian 1)





Peresensi Buku : Suherman Syach
Judul Buku : Anregurutta Ambo Dalle: Maha Guru dari Bumi Bugis
Penulis Buku : H. M. Nasruddin Anshory Ch.
Penerbit : Tiara Wacana Yogyakarta
Tahun Terbit : 2009
Tebal : 180 halaman





Buku ini termasuk langka. Masih sulit menemukan buku atau pun tulisan yang mengurai secara lengkap sosok, perjalanan dan perjuangan Andregurutta Ambo Dalle. Penulis buku ini, H. M. Nasruddin Anshory Ch., secara runtut mengisahkan sosok Anregurutta Ambo Dalle mulai masa kanak-kanak, remaja, hingga masa perjuangan, pengabdian dengan berbagai peristiwa penting yang terjadi di dalamnya.





Menurut pengakuan H. M. Nasruddin Anshory Ch dalam catatan pengantarnya, buku ini merupakan hasil riset yang dia lakukan secara langsung kepada Anregurutta Ambo Dalle selama 8 bulan. Pada tahun 1988, penulis tinggal satu atap dengan Anregurutta Ambo Dalle bersama keluarga dan santri-santrinya. Hal ini memungkinkan bahwa fakta-fakta yang tertuang dalam buku ini merupakan penuturan atau perbuatan langsung dari Anregurutta Ambo Dalle. Sehingga bisa disimpulkan bahwa uraian peristiwa dan fakta dalam buku ini sebagai sesuatu yang orginil datang dari Gurutta.





Buku ini dibagi dalam tujuh bagian bahasan. Pada bagian pertama, penulis mengisahkan kelahiran dan masa kecil Ambo Dalle di Desa UjungE Kecamatan Tanasitolo. Desa ini terletak 7 kilometer dari Kota Sengkang, tempat kelahiran Ambo Dalle dari orangtuanya Puang Ngati Daeng Patobo dan Puang Candra Dewi. Orangtua Ambo Dalle salah satu tokoh yang terpandang dan dituakan di kampungnya. Bagian ini juga mengisahkan budaya bugis yang berkembang di kala itu dan situasi peperangan yang sering terjadi dengan penjajah.





Dinamika budaya bugis dan situasi peperang dengan penjajah itulah yang menurut penulis menyertai masa kecil Ambo Dalle. Hidup di tengah masyarakat Bugis yang sangat kental dengan ajaran Islam, membawa Ambo Dalle kecil belajar agama Islam. Mulai dari belajar mengaji, menghafal al-Quran, belajar ilmu nahwu dan syaraf, hingga tafsir al- Quran. Masa remaja Ambo Dalle dihabiskan untuk belajar. Untuk memperluas keilmuannya, Ambo Dalle berangkat ke Makassar dan menimba ilmu di Sekolah Guru Syarikat Islam dan belajar ilmu agama kepada ulama-ulama alumni Mekkah, seperti H. Syamsuddin dan Sayyid Ali al- Ahdal.





Dikisahkan bagaimana Ambo Dalle belajar dan berkolaborasi dengan gurutta H. As'ad di Sengkang. Awalnya Ambo Dalle mustami' pengajian yang rutin digelar gurutta As'ad. Hingga akhirnya, keduanya menjadi sahabat yang berjuang bersama dalam dakwah Islamiyah. Ketika gurutta H. As'ad mendirikan Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI), Ambo Dalle terpilih sebagai salah satu tenaga pendidik utamanya. Kolaborasi gurutta H. As'ad dan gurutta Ambo Dalle yang diceritakan dalam bagian kedua buku ini merupakan cikal bakal pendidikan Islam modern di Sulawesi Selatan. Mereka berdua adalah perintis dan pendiri lembaga pendidikan formal, berupa madrasah pesantren di pedalaman Sulawesi Selatan.





Pada bagian ketiga dari bahasan ini. Penulis memberi judul Merintis Jalan Pembaharuan. Bagian ini mengisahkan pendirian pesantren atau MAI di luar Kabupaten Sengkang, yaitu di daerah Soppeng Riaja Kabupaten Barru. Sejak berdirinya, MAI Sengkang mengalami kemajuan yang cukup pesat. Jika awalnya, MAI dipusatkan di rumah gurutta, karena minat masyarakat yang semakin tinggi, maka MAI dipindahkan ke Masjid Raya Sekkang. MAI Sengkang menggaung ke pelosok Sulawesi Selatan. Banyak santri dari berbagai penjuru datang ke Sekkang untuk menuntut ilmu agama. Masyarakat Sulawesi Selatan bergairah untuk mempelajari dan memperdalam ilmu agama Islam melalui madrasah. Sayangnya, gurutta H. As'ad dengan prinsip kehatian-hatianya tidak berkeinginan membuka cabang-cabang MAI di luar Sengkang.





Sesaat Anregurutta Ambo Dalle pulang menunaikan haji pada tahun 1935. Kepala Swapraja Soppeng Riaja mengajukan permohonan untuk mendirikan madrasah MAI di daerahnya dan meminta gurutta Ambo Dalle sebagai pengajar utamanya. Oleh gurutta H. As'ad permintaan ini ditolak dengan alasan, kepergian gurutta Ambo Dalle akan menghambat kemajuan MAI. Tetapi hasrat dan semangat yang kuat dari Petta Soppeng Riaja mendirikan madrasah, akhirnya meluluhkan hati gurutta H. As'ad dan merelakan gurutta Ambo Dalle berpindah ke Soppeng Riaja untuk memimpin MAI di Mangkoso Kabupaten Barru. Anregurutta Ambo Dalle pindah dari Sengkang ke Soppeng Riaja Barru terjadi pada tanggal 21 Desember 1938 bertetapan 29 Syawal 1357 Hijriyah.





Bersambung........... (2)


Kolaborasi Mahasiswa KPI dengan Pemerintah Desa Langda, Latih Pemuda Ekspose Potensi Desa


IAIN PAREPARE--- Sejuta pesona kabupaten Enrekang, salah satunya di Desa Langda Kecamatan Buntu Batu. Masyarakat yang diwakili Kepala Desa sebagai pemimpin melakukan kolaborasi dengan mahasiswa Program Studi (Prodi) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Parepare, Senin (10/2/2020).









Kolaborasi ini diwujudkan dalam bentuk pelaksanaan workshop video profil Desa Langda guna mengekspose potensi desa baik segi Sumber Daya Alam (SDA) maupun Sumber Daya Manusia (SDM).





Nurhakki Ketua Prodi KPI Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Parepare mengungkapkan pemerintah desa menjadi ujung tombak kesejahteraan bangsa.





“Desa yang memiliki warga, memiliki kekayaan sumber daya alam, dan menjadi perpanjangan tangan pemerintah memajukan pembangunan melalui alokasi dana desa (ADD) dan dana desa (DD) untuk membangun desa berbasis aset yang dimiliki. Untuk itu, desa Langda dengan seluruh program kerja yang sangat bagus seharusnya memiliki model publikasi yang baik untuk menjaga kepercayaan publik sekaligus publikasi aset-aset desa. Sehingga pemuda desa harus berpartisipasi dalam publikasi kegiatan, dan melalui workshop video profil pemuda desa berlatih untuk bisa terampil dalam publikasi audio visual” jelasnya saat dikonfirmasi via whatsapp yang masih di lokasi kegiatan.





Pelaksanaan workshop diawali dengan Focus Group Discussion (FGD). FGD dihadiri oleh Kepala urusan (Kaur) pemerintahan kecamatan Buntu Batu, kepala desa Langda, pendamping desa, Kepala seksi (Kasi) dan seluruh kepala dusun, ketua karang taruna, serta sepuluh peserta workshop pemuda pemudi yang dipersiapkan sebagai tenaga terampil publikasi desa. Seluruh peserta terlibat penuh dalam pembuatan video profil desa yang menjadi output inti dari workshop ini, sehingga video profil desa adalah karya dari peserta.













“Di tangan Pak Desa Risal memiliki progres pembangunan dalam berbagai dimensi, bukan hanya berkiblat pada sarana dan prasarana desa, namun juga program kesehatan balita, sampai-sampai peraturan desa ‘wajib asi’ juga ada. Sanitasi lingkungan bersih, kursus menjahit dan sangat banyak lagi yang tak terungkap dalam FGD hari ini,” terang Nurhakki.









Salah satu mahasiswa KPI yang menjadi mentor dalam workshop ini, Rahmat Anwar mengungkapkan salah satu alasannya karena melihat potensi desa dan keinginan untuk mengaplikasikan ilmu yang telah didapatkan di kampus.
“Bagaimana kita mengaplikasikan ilmu yang sudah didapatkan di kampus dan dibagi kepada masyarakat khususnya para pemuda agar ke depannya nanti pemuda yang ada di desa Langda akan meneruskan dan mengekspose ke media sosial tentang potensi dan kegiatan-kegiatan desanya,” ucap Rahmat melalui voicenote whatsapp.





Kepala Desa Langda, Risal mengungkapkan rasa terima kasihnya atas bantuan dan kolaborasi dengan IAIN Parepare.
“Kegiatan ini memang sangat dibutuhkan untuk pengembangan desa, apalagi kalau dalam profil hanya kertas-kertas terkadang orang tidak tertarik membaca. Tapi kalau dalam bentuk video di manapun dan kapanpun orang bisa lihat dan pastinya lebih" jelasnya.





Selain itu, prioritas pembangunan desa kedepan adalah menjadikan desa Langda sebagai desa wisata.





"Ada beberapa usaha kecil menengah desa ingin kita ekspose, dan kedepan program industri air mineral kemasan dengan memanfaatkan mata air bersih di desa kita. Untuk itu kegiatan ini sangat kita butuhkan, jadi saya berharap seluruh peserta mengikuti workshop dengan serius” jelas Risal, Kepala Desa Langda dalam sambutan pembukaan kegiatan.





Workshop yang dibuka Kasi Pemerintah mewakili Camat Buntu Batu ini dijadwalkan akan berakhir pada 16 Februari 2020 dengan launching video profil desa Langda. Pemberian materi sedikit teori dan lebih banyak praktik, meliputi pra produksi, produksi dan pasca produksi. (hyn/mif)


Minggu, 09 Februari 2020

Arah Pendidikan di Tangan Sang Founder Gojek


Oleh : Musmulyadi, S.H.I.,M.M
(Dosen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, IAIN Parepare)





OPINI --- Satu hal yang sering luput dari perhatian kita adalah pentingnya arah mengevaluasi arah pendidikan kita di Indonesia. Tujuan pendidikan merupakan masalah central dalam filsafat pendidikan. Secara umum tujuan diartikan sebagai perbuatan yang diarahkan kepada suatu maksud yang hendak dicapai melalui upaya atau aktivitas.





Tujuan akan mengarahkan tindakan dan perumusan tujuan pendidikan yang benar merupakan inti dari seluruh pemikiran pedagogis dan perenungan filosofis. Oleh karena itu, tanpa merumuskan tujuan dan arah pendidikan yang tepat, maka semua usaha perbaikan hampir pasti akan berakhir dengan kegagalan.





Arah pendidikan tidak pernah lepas dari tujuan hidup manusia. Sejak kita lahir sampai akhirnya tercipta pertanyaan, “Kemana arah kehidupan ini?” Oleh karena itu, langkah awal yang harus kita lakukan untuk memperbaiki pendidikan kita adalah merumuskan ke mana arahnya.





Sejak duduk di bangku sekolah hingga perguruan tinggi, seharusnya seseorang sudah diberikan bekal pendalaman ragam profesi secara intens. Dalam persaingan global yang sangat sengit, sekolah dituntut untuk mengenalkan sikap profesionalisme dan ragam profesi.





Ketika mendengar ucapan tersebut, saya sebagai warga negara Indonesia mencium aroma sedap saat penyambutan dan harapan-harapan yang membuncah atas terpilihnya Nadiem Makarim sebagai Mendikbud “Sang Founder Gojek.” Presiden Joko Widodo menunjuk Nadiem yang merupakan salah satu sosok generasi milenial yang kini menangani masalah pendidikan dasar, menengah dan perguruan tinggi.





Halaman selanjutnya....





Apakah pertimbangan sang Presiden? Bagaimana respon masyarakat? tentunya ada Pro dan ada yang Kontra....













Melihat aspek perubahan mendasar yang diharapkan terjadi pada arah kebijakan pendidikan di tangan menteri Nadiem, yaitu soal pentingnya fondasi akhlak dan adab pada setiap jenjang pendidikan. Jangan sampai dunia pendidikan di Indonesia melahirkan manusia yang pintar cari makan, tetapi jahat, serakah, dan tidak peduli pada sesama insan, apalagi melahirkan manusia yang tidak profesional, tidak berguna, buruk pula akhlaknya.





Sudah barang tentu, kita tidak ingin pendidikan di Indonesia diarahkan pada tujuan-tujuan jangka pendek yang hanya memperhatikan urusan yang bersifat sementara saja, benar pendidikan perlu melek kemajuan teknologi, akan tetapi jangan lupa ilmu dan pengetahuan yang membangun hakikat dan jati diri sebuah bangsa yang besar tidak boleh dilupakan.
Sehingga anggapan bangsa kita sekarang laksana raksasa yang terlupakan (forgetfull giant) tidak mampu mengidentifikasi potensi dan kekuatan dirinya adalah hal yang keliru.





Nadiem lebih dikenal kontribusinya dalam dunia ekonomi dan financial technology dengan Gojek dan Gopay-nya. Nadiem memiliki beberapa gebrakan baru usai dilantik sebagai Mendikbud oleh Presiden Joko Widodo. Beberapa di antaranya adalah mengganti Ujian Nasional (UN) dengan sistem penilaian baru dan mengubah konsep pilihan ganda di Ujian Sekolah.





Selain itu, Nadiem juga mengubah sistem zonasi yang selama ini kerap menimbulkan masalah. Walaupun diubah, Kemendikbud tetap menggunakan sistem zonasi saat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang lebih fleksibel. Nadiem juga ingin merubah konsep pilihan ganda di Ujian Sekolah, dan selain Tunjangan Profesi kini ada tambahan tunjangan lain. Ketum Ikatan Guru Indonesia (IGI) Ramli Rahim merespons positif.





Beberapa waktu yang lalu Founder Gojek ini juga menyuarakan “Kampus Merdeka“ dimana ia akan melakukan gebrakan terhadap perguruan tinggi, S1 cuma wajib kuliah 5 semester dan sisanya, Perguruan Tinggi wajib memberikan hak bagi mahasiswa untuk secara sukarela (dapat diambil atau tidak) mengambil Sistem Kredit Semester (SKS) di luar kampus tinggi sebanyak 2 semester (setara 40 SKS).





Di samping itu, mahasiswa boleh mengambil SKS di prodi berbeda di Perguruan Tinggi yang sama sebanyak 1 semester (setara dengan 20 SKS). Ketentuan itu nantinya tertuang dalam paket kebijakan Merdeka Belajar:
Pembuktian.





Catatan penting buat Nadiem adalah “Pembuktian”. Masyarakat menunggu pembuktian pertama dari Nadiem. Dan cara termudah dan tercepat sebagai langkah awal menjawab pembuktian itu adalah menuliskan gagasan dan pemikiran pendidikan seorang Nadiem Makarim.





Dalam konsep pendidikan Islam, pendidikan memiliki empat domain utama, yaitu tadrib (pembinaan fisik), ta’dib (penanaman iman dan adab), tarbiyah (pengembangan potensi dan kompetensi), dan ta’lim (pengajaran ilmu pengetahuan). Sementara, Kihajar Dewantara menyebutnya dengan istilah olah raga, olah pikir, olah rasa, dan olah karsa.





Karena itu, tantangan Nadiem adalah keluar dari jebakan pragmatisme pendidikan, apalagi bila sampai terperangkap dalam kapitalisme pendidikan. Membangun peradaban bangsa selalu dimulai dengan membangun manusianya. Sarana paling strategis membangun manusia adalah melalui pendidikan. Kita tidak ingin pendidikan kita sekadar menghasilkan SDM siap kerja yang tidak berbeda jauh dengan robot. (*)





Hp/wa : 085396410006


Pengumuman: Hasil Verifikasi Banding UKT Mahasiswa IAIN Parepare


IAIN PAREPARE---- Berdasarkan hasil verifikasi dokumen banding UKT (Uang Kuliah Tunggal) mahasiswa angkatan 2017, 2018, dan 2019 IAIN Parepare maka kuliah tunggal mahasiswa diumumkan sebagaimana terlampir untuk segera melakukan Her-Registrasi atau pembayaran UKT sesuai kalender akademik yang berlaku (sampai tanggal 14 Februari 2020).






Sabtu, 08 Februari 2020

WOW EFFECTS & GO SPIRIT: Sebuah Renungan


By. Budiman Sulaeman, S.Ag., M.HI





Dosen IAIN Parepare





OPINI. Judul di atas terinspirasi dari tiga hari penuh penulis menikmati Workshop Tunas Integritas IAIN Parepare di penghujung 2019, tepatnya 17-19 Desember bersama 40 peserta yang wow (wakil rektor, dekan, wakil dekan, ketua dan sekretaris lembaga, kepala bagian, kepala sub bagian, kepala pusat dan anggota senat) dengan menghadirkan duo trainer hebat nan mengesankan, Kang Asep Chaeruloh dan Ryan Herviasnyah Utama.





Sesaat setelah kegiatan resmi ditutup Rektor IAIN Parepare Bapak Dr. Ahmad Sultra Rustan, M.Si. tiba-tiba ingatan penulis meluncur ke perhelatan pilpres dan pileg yang lalu. Sejumlah dialog imajinatif di pikiran penulis menggelayut yang berujung pada kesimpulan: “Andaikata perhelatan pilpres dulu betul-betul ditata dengan nilai-nilai PANCASILA dan terinternalisasi serta terimplementasi dalam sikap dan perilaku, maka masyarakat pasti bahagia menikmati pilpres”.





Pilpres (pemilihan presiden), pileg (pemilihan legislatif) atau pilkades (pemilihan kepala desa) idealnya mampu membuat pikiran fresh, senyum tulus walau nirfulûs. Tidak membuat kita stress, senyum sinis walau sudah dipaksakan manis. Kondisi ini tersaji akibat semua merasa diri paling benar.





Banyak faktor yang membuat kondisi seperti itu tersaji. Namun dapat disederhanakan menjadi 2 (dua) faktor: internal dan eksternal. Faktor internal indikasinya banyak, namun yang pasti manusia asyik memperturutkan birahi kekuasaannya. Faktor eksternal pun demikian. Indikasinya beragam, namun dapat disimpulkan: manusia terjebak pada WOW Effects; rayuan politis-puitis setan dan konco-konconya. Pikirannya negatif, pandangan batinnya buta, ilmunya lumpuh, dan nuraninya terselubungi kabut zhulmâni (kegelapan).





‘Ibâdallâh…!!! Camkan, WOW Effects itu bekerja halus, nyaris tak terdengar, sulit terpantau, tidak mudah terdeteksi karena rayuannya silent (diam, tidak terasa) dan lebih banyak berawal dari sesuatu yang terlihat atau terasa biasa dan absah. Terlihat dan terasa bukan sebuah pelanggaran. Misalnya, pada mulanya duduk di atas kursi (politik) hanya dalam rangka memperjuangkan hak-hak warga. Namun dalam perjalanannya, niat tulus itu berubah arah dan dibelokkan. Keberadaan kursi berubah menjadi ajang untuk unjuk kekuasaan.





Awalnya memiliki/’membeli’ kendaraan (politik) dianiati untuk memudahkan pergerakannya dalam bekerja dan mengabdi. Namun, WOW Effects mengipas-ngipasi. Akhirnya niatnya bergeser. Kendaraan itu beralih fungsi menjadi alat untuk menancapkan kuku dan cengkraman kekuasaannya.





Pada mulanya mengenakan baju (politik) dengan niat untuk menutupi aurat agar auranya di hadapan warga sebagai manusia terhormat tetap terjaga. Namun, WOW Effects memanas-manasi. Akhirnya niat sucinya berubah menjadi ajang menumbuh-suburkan sifat kibr (kecongkakan) di dalam hatinya, melegalkan sifat dan perilaku takabbur di tengah komunitasnya. Baju yang dipakai, secara ritual masih terlihat gagah. Namun sejatinya, secara moral, baju kebesarannya telah lucut dan copot, tetapi masih bisa mengumbar senyum padahal sudah mengalami ketertelanjangan spiritual.





Awalnya tergerak untuk terjun ke panggung politik praktis dengan niat suci: membumikan keadilan dan kebenaran; mengutamakan kepentingan umum/negara di atas kepentingan pribadi atau golongan; mengukuhkan semangat persatuan dan kesatuan bangsa; dan memberi pendidikan politik santun, ramah dan bersahaja kepada masyarakat. Namun dalam perjalanan karier politiknya, justru mereka membumi-hanguskan keadilan dan kebenaran; sibuk mengurusi kepentingan pribadi atau golongan walau sesekali dibumbui penyedap rasa “atas nama rakyat”; mengoyak-ngoyak persatuan dan kesatuan bangsa; mempertontonkan politik culas, kasar dan hipokrit untuk menjatuhkan lawan (tepatnya: kawan).





Itu sebabnya, Allah mewanti-wanti kita agar secara cerdas melakukan deteksi dini terhadap WOW Effects yang dapat berwujud jebakan, perangkap, strategi dan langkah cerdik namun bertahap dari setan dalam menjerumuskan umat manusia. Sebagaimana firman Allah dalam QS. al-Baqarah [2]:168:






وَلا تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِين





Terjemah:
“… dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; (karena) sesungguhnya ia (setan) adalah musuh yang nyata bagimu. ”





‘Ibâdallâh…!!! Tidak semua manusia memiliki kemampuan menepis WOW Effects itu. Tidak semua mampu menjadikan setan sebagai musuh abadi. Mengapa? Boleh jadi karena ia tergiur berbagai iming-iming hoax (bohong) setan walau kelihatannya haq, silau dengan gemerlap dunia dan menawarkan pil yang katanya bisa membuat fresh dan menghilangkan stress. WOW Effects ini kerap membutakan mata batin dan nurani manusia. Itu sebabnya, sejak awal Allah mengingatkan dalam QS. Fâthir [35]:6:





إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا





Terjemah:
“Sesungguhnya setan adalah musuh (besar) bagi kamu, maka jadikanlah ia musuh…”





Firman Tuhan ini sejatinya mem-bluetooth pesan ke alam bawah sadar dan lubuk hati terdalam manusia bahwa sejatinya manusia telah mengerti semengerti-mengertinya bahwa WOW Effects itu harus menjadi musuh besar dan abadi dalam kehidupan. Namun sayangnya, manusia seringkali belum mampu memosisikannya sebagai musuh abadi-sejati.





WOW Effects hanya menjadi musuh dalam teori, namun kerap menjadi kawan sejati dalam praktik. Kondisi ini mesti disikapi dengan terus berupaya mengasah kesadaran yang bersumber dari dalam: “inside out”, bukan “outside in”. Mengatasinya bukan hanya melakukan ritual semata dan sesuatu yang biasa, tetapi juga mesti digerakkan secara SPIritual (Super-berPrinsip-Ideal) dan luar biasa yang melibatkan Ruh, Rasa, Raga dan Rasio (4R) secara integral, profesional, berintegritas. Ayo teriakkan: GO SPIRIT…!!![]


Lewat PPL, IAIN Parepare Rancang Kampus Merdeka


IAIN PAREPARE---- Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) salah satu kegiatan akademik mahasiswa untuk mengaplikasikan dasar profesi, pengetahuan teoritis mahasiswa yang didapat di bangku perkuliahan dalam bentuk pembelajaran sesungguhnya. Sebelum mempraktikan langsung ilmu yang diperoleh selama di bangku kuliah, mahasiswa harus dibekali kemampuan tambahan agar mengetahui cara mengaplikasikan ilmu tersebut di sekolah-sekolah yang bakal mereka tempati.









Sebelum pelaksanaan PPL di Fakultas Tarbiyah IAIN Parepare, Jumat (7/2/2020) sebanyak 290 mahasiswa semester 8 akhir mengikuti Pembekalan PPL yang berlangsung di Aula Serbaguna IAIN Parepare.





Pada tahun ini, penyelenggaraan Pembekalan PPL dilakukan selama satu hari yang dihadiri Wakil Rektor I Dr. Sitti Jamilah Amin, Dekan Fakultas Tarbiyah Dr Saepudin, dosen pembimbing, kaprodi dan mahasiswa Peserta PPL. Materi yang disampaikan antara lain adalah etika berPPL, gambaran umum PPL, mekanisme pelaksanaan PPL, serta teknik penyusunan laporan.





Ketua Panitia Drs. Muzakkir melaporkan bahwa mahasiswa akan mengikuti PPL di 38 SMP/MTs dan SMA/MA di Parepare selama kurang lebih 1,5 bulan.
“Insya Allah pengantaran mahasiswa ke sekolah akan dilaksanakan Senin 10 Februari dan penarikan praktik lapangan 20 Maret 2020,” tuturnya.





Dekan Fakultas Tarbiyah Dr Saepudin membeberkan alasan pelaksanaan PPL tahun ini berbeda dengan tahun 2019, menurutnya penentuan jadwal pelaksanaan PPL sangat erat kaitannya dengan kelender akademik sekolah sehingga PPL mendahului kegiatan KPM, agar seluruh kegiatan akademik dapat berjalan efektif. Selain itu, Saepudin memaparkan dalam Program PPL ada tiga hal utama yang harus dilakukan mahasiswa yaitu, mengajar, melakukan kegiatan administrasi, dan bimbingan kesiswaan dalam bentuk ekstrakurikuler.
“Jadikan PPL ini sebagai sarana untuk menggali diri untuk mengembangkan kemampuan profesionalisme guru,” harapnya.









Wakil Rektor I IAIN Parepare Bidang APL Dr. Sitti Jamilah Amin mengapresiasi Fakultas Tarbiyah, tahun ini mampu melaksanakan PPL tercepat dibanding dengan fakultas-fakultas lain. Ia juga menyampaikan pesan Rektor kepada peserta PPL untuk mengikuti pembekalan ini dengan seksama, sebab kegiatan ini sebagian dari penilaian panitia pelaksana.





Wakil Rektor I juga menyampaikan kepada peserta PPL untuk menggunakan ilmu yang diperoleh selama kuliah.
"Mungkin ada dari siswa yang tidak memperhatikan, dituntut kesabaran yang luar biasa, di sinilah pengaplikasian pelajaran yang pernah dipelajari di psikologi, ilmu pembelajaran, dan ketika microteaching. Peserta akan diuji apakah memang bisa menjadi guru yang baik atau guru yang sekadar melaksanakan kewajiban," ungkapnya





Selain itu, Sitti Jamilah juga memberikan sebuah gambaran terkait dengan teknis pelaksanaan PPL ke depannya yang akan diintegrasikan dengan KPM.





“Ke depan PPL akan diintegrasikan dengan KPM dengan pembagian waktu dari jam 8 pagi sampai jam 1 siang mahasiswa melakukan kegiatan PPL dan selanjutnya dari jam 2 siang sampai malam mahasiswa melakukan kegiatan pengabdian. Tentunya, hal ini sejalan dengan program Kementerian Pendidikan dan kebudayaan yang disebut kampus merdeka dan mahasiswa akan merasakan tiga bulan benar-benar 'libur' bersama masyarakat,” ujarnya.





Harapan Dr Sitti Jamilah selaku Wakil Rektor I bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan (APL) dalam program PPL ini perlu adanya inovasi-inovasi seperti adanya team teaching dan output berupa bookchart.
“Pelaksanaan PPL tahun ini diperlukan adanya inovasi-inovasi semisal, team teaching bukan lagi satu mahasiswa satu kelas, tapi mereka berkolaborasi merancang strategi mengajar yang menarik dan kreatif agar dalam proses pembelajaran siswa mampu memahami materi dengan terlibat aktif,” harapnya.





Warek Bidang APL juga mengingatkan 21 Maret 2020 penarikan PPL kemudian 26 Maret 2020 akan ada kegiatan akademik selanjutnya yakni Kuliah Pengabdian Masyarakat, maka diimbau kepada peserta PPL membuat laporan secepat mungkin. Laporan PPL selain bentuknya dalam laporan fakultas juga dalam bentuk bookchart.
"Untuk mendukung administrasi maka dosen pendamping PPL berkolaborasi dengan Peserta PPL untuk menyusun bookchart. Sebab laporan hasil PPL yang biasa tidak nilai di akreditasi tapi bookchartlah yang akan dinilai. Ini akan menaikkan akreditasi, sehingga mahasiswa di tiap prodi yang PPL, sedini mungkin bisa mempersiapkan bokchartnya," jelasnya.





Di akhir kegiatan pembekalan, Dr Sitti Jamilah secara simbolis melepas mahasiswa ke lokasi praktikan dengan memasangkan atribut jas almamater IAIN Parepare kepada perwakilan mahasiswa. (Ars/mif)