Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Februari 2020

Lontara Paseng: Spirit Menghargai Budi


Oleh: Dr Agus Muchsin, M. Ag  (Wakil Dekan Bidang AUPK Fakultas Syariah dan Hukum Islam IAIN Parepare)





IAIN PAREPARE ---- Narekko purani riaccinaungi passiring bolana tauwe tempeddinni rinawa-nawa maja





Artinya :
Kalau kita sudah berteduh di bawah atap rumahnya seseorang, sudah tidak boleh lagi dibenci (diusahakan ia binasa).





Pappaseng to riolo kali ini menarik untuk didalami karena di satu sisi menanamkan sikap menghargai budi orang lain bisa berdampak positif, namun sebaliknya di sisi lain berdampak negatif ketika diperhadapkan dengan ahli retorika dengan kemampuan pertunjukan aksi penguasaan panggung untuk mengelabui mata, atau sebut saja sandiwara politik.





Diskusi ini marak bukan hanya di kalangan akademisi konsentrasi politik, tapi hampir semua stratifikasi sosial menjadikannya sebagai isu hangat seperti di pasar, pangkalan ojek, pos roda, warung kopi, kampus, masjid dan lain-lain.





Konklusi dari fenomena diskusi bebas tersebut berkisar pada kreadibilitas para pelakon politik yang sepertinya telah menanamkan kebaikan.
"Tempedding inawa-nawa maja" secara leksikal dalam pemaknaan lontara, sederhananya adalah tidak boleh berharap agar ia celaka. Term ini mendeskripsikan bahwa etika bugis juga mengenal klasifikasi antara perbuatan oleh hati dan perbuatan badan/jasad.





Nawa-nawa dalam perspektif Islam biasa ditemukan beberapa term antara lain, اهمية الي السوء ( pengharapan pada keburukan ) dan سوء الظن ( prasangka buruk ). Apapun namanya, keduanya merupakan bentuk perbuatan hati (العملية القلب). Artinya sangat tidak ber etika bagi orang Bugis untuk berbuat jahat/buruk pada orang yang telah menanamkan budi atas dirinya, terlebih jika dalam bentuk fisik ( العملية البدنية ).





Klasifikasi bentuk amaliah di atas, dapat dikaji melalui disiplin ilmu tasawuf, selama ini dianggap tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw, bahkan dianggap tidak berdasar. Diskusi tentang ini memang cukup panjang namun bukan berarti bahwa praktik tasawuf sebagai asumsi bahwa ia tidak ubahnya dengan mistik, lalu kemudian dilakukan penolakan secara totalitas.





Amalan hati yang awalnya sangat dipelihara oleh ahli tasawuf (sufi), sepertinya juga disadari oleh ahli fikhi (fuqaha). Ketika berbicara tentang niat, fuqaha hanya mengidentikkan dengan al Qashd (tujuan), bahwa segala sesuatu itu tergantung pada tujuannya (الامور بمقاصدها). Fuqaha menilai bahwa tujuan itu dianggap sebagai pelanggaran jika ada indikator perbuatan berbarengan dengan pembuktian (فرينة), lebih jelasnya pembahasan ini ditemukan pada kajian tujuan unifikasi dan penetapan hukum dari aspek subyeknya (مقاصد المكلف).





Berbeda dengan ulama tasawuf (sufi), gerak hati yang begitu lembut dan sangat rahasia tanpa indikator perbuatan fisik dari "nawa-nawa kaja" pun dilarang, karena perbuatan ini merupakan penyakit hati dan mematikan hati.





Betul bahwa orang Bugis mudah percaya dan tidak akan pernah mau merusak meski dalam nawa-nawa ja, bagi mereka yang telah menanamkan kebaikan pada dirinya, namun satu kali melakukan keburukan akan menghilangkan kepercayaannya.





Ciceng mi tu aruntukeng jambang ko lalenge. Ko engka tai iruntu tulu ikomi reaseng (satu kali engkau kedapatan membuang kotoran di jalanan maka berikutnya ditemukan kotoran maka tuduhan jatuh atas dirimu).





Lontara paseng ini sepertinya kembali teruji saat terjadinya pergeseran nilai sebagai dampak dari bangkitnya kekuatan ekonomi di era ini, menggiring pada materialistik dengan kesan individualustik. Kepentingan sesaat untuk sebuah jabatan, pangkat dan harta menggiring agar melakoni pentas sandiwara meski hanya kebohongan, menawarkan kebaikan dengan kedok kepalsuan agar terhindar dari "nawa nawa ja".





Allah SWT berfirman dalam QS. Albaqarah(2): 89
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالْآخِرَةِ ۖ فَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنصَرُونَ
Terjemahnya:
Mereka menukar kehidupan akhirat dengan dunia, maka Allah tidak meringankan adzab bagi mereka dan tidak akan ditolong





Imam al Thabari menyebutnya sebagai bentuk sikap kecintaan berlebihan pada ni'mat dunia yang sedikit, sementara kecintaan ni'mat akhirat yang banyak diminimalkan ( استحبوا قليل النيا علي كثير الاخرة ). Parahnya adalah ketika didominasi oleh rasionalisme secara filosofis membatasi hidup pada alam forma, alam idea diabaikan. Padahal dalam eksatologi, idea merupakan awal dari segala forma.





Pesan bijak melalui lontara di atas, sebaiknya tetap dipelihara dan dijadikan referensi, sikap terhadap orang yang menanamkan kebaikan tidak langsung bisa diterima melainkan butuh klarifikasi sebelumnya melalui sifat aninireng (wara) dengan penuh pertimbangan, dengan tetap berdasar pada akulturasi agama dan budaya Bugis. (*)





Editor : Alfiansyah Anwar


Minggu, 16 Februari 2020

ESAI; Scanner, Satu Langkah Bijak


Oleh : Sirajuddin, Pustakawan IAIN Parepare





OPINI--- ESAI; Simplikasi layanan perpustakaan bertujuan terjalinnya layanan yang efektif dan efisien, dan terwujudnya excellent services khususnya pada layanan perpustakaan.





Perpustakaan yang saya gambarkan dalam tulisan ini adalah perpustakaan IAIN Parepare, tempat penulis melaksanakan tugas sebagai pengelola Perpustakaan.





Opini informatif ini bertujuan untuk menggambarkan salah satu bagian layanan pemustaka (pengguna perpustakaan) pada unit perpustakaan. Yaitu layanan referensi yang berada di lantai 3 gedung perpustakaan yang tetap aktif meskipun di hari libur kuliah.





Layanan referensi yang dimiliki Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perpustakaan IAIN Parepare dikemas dalam bentuk digital institution repository dan juga dalam konvensional, close access (layanan tertutup) dalam hal ini pemustaka bertanya dan dijawab oleh petugas referensi dengan menggunakan koleksi referensi.





Menurut Sumadji, pengertian layanan referensi adalah : Salah satu kegiatan yang dilakukan di perpustakaan, yang khusus melayankan koleksi referensi kepada pengguna, suatu kegiatan layanan untuk membantu para pemakai perpustakaan untuk mencari informasi dengan cara :
Menerima pertenyaan dari pengguna dan menjawab dengan koleksi referensi.





Memberikan bimbingan untuk menemukan bahan informasi yang dibutuhkan oleh pengguna.
Secara umum layanan referensi terdiri dari: Kamus; terdiri dari kamus bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kamus istilah bidang ilmu, kamus bahasa isyarat, kamus visual, glosarium, dan sebagainya.





Ensiklopedi; misalnya, Ensiklopedi Nasional, Ensiklopedi para tokoh, Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Geografi, dan ensiklopedi berbagai bidang ilmu, seperti bidang hukum dan bahasa; Handbook, manual;
indeks, katalog, dan abstrak; misalnya, indeks Al Quran, abstrak karya ilmiah, indeks peraturan perundang-undangan Republik Indonesia; sumber-sumber sejarah, geografi, dan biografi tokoh-tokoh nasional dan dunia;





Direktori atau daftar alamat; misalnya daftar alamat perusahaan besar dan alamat industri pengolahan di Indonesia (manufacturing directory); Proceedings and annual meetings.;
Himpunan Peraturan Perundang-Undangan, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, KUH Perdata, engelbrecht, agraria, UUD 1945, dan peraturan kepegawaian. Peraturan perundang-undangan tersedia dalam bentuk cetak maupun elektronik.





Pada layanan Referensi Perpustakaan IAIN Parepare kita juga bisa menemukan kumpulan karya-karya civitas akademik. Seperti journal dan laporan hasil penelitian bahkan sampai pada statistik pegawai IAIN Parepare.





Upaya yang dilakukan pengelola perpustakaan dalam hal ini terpenuhinya kebutuhan informasi yang diperoleh melalui kelengkapan koleksi referensi yang efektif dan efisien yang diimplementasikan melalui jasa bimbingan referensi kepada pemustaka seperti: Jasa informasi umum terkait dengan informasi umum unit, jenis layanan yang diberikan, petunjuk keberadaan koleksi; Jasa bimbingan pemakaian sumber-sumber rujukan, meliputi layanan pengenalan sumber-sumber rujukan yang berkaitan dengan isi, susunan, dan cara untuk menemukan sebuah informasi dengan memanfaatkan sumber-sumber tercetak maupun elektronik.





Sistem pelaporan kinerja layanan umum perpustakaan, selain menggunakan absen digital Senayan Library Management System (SLiMS) yang mengakomodir data pengunjung secara umum.





Sedangkan, di bagian layanan karya ilmiah (koleksi referensi) mahasiswa diwajibkan menginput data koleksi referensi sebagai kebijakan baru dengan menscan barcode yang disediakan pengelola referensi.









Pengguna akan terregister hanya dengan menggunakan pemindai barcode atau aplikasi barcode scanner pada setiap smartphone (telepon pintar) secara mandiri oleh setiap pemustaka, hal ini untuk mendata "keterpakaian koleksi referensi".





Waktu kita berada di lantai 3 Perpustakaan IAIN Parepare atau ruang referensi kita akan menemukan barcode yang terpasang di dinding dan meja dengan tulisan "Put your barcode reader in front of it". (*)





Editor : Alfiansyah Anwar


Jumat, 14 Februari 2020

Valentine adalah Hari Kasih Sayang?


Penulis: Musmulyadi, S.H.I.,M.M.
(Dosen Manajemen Sumber Daya Manusia Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Parepare)





Opini--- 14 Februari, perayaan yang banyak dirayakan oleh sebagian pasangan di seluruh dunia termasuk di negara kita ini dan mengatakan, “Hari kasih sayang”.





Apakah mereka tahu sejarah tentang valentine, Atau pura-pura tidak tahu? Hari valentine adalah hari raya bangsa Romawi Jahiliah. Hari tersebut berlangsung hingga masuknya bangsa Romawi ke dalam agama Nasrani. Hari ini berkaitan erat dengan seorang pastur yang bernama Valentine yang dihukum mati pada tanggal 14 Februari 270 M. Sampai saat ini masih dirayakan.





Salah satu kisah menyebut, alkisah Kaisar Romawi Claudius II melarang para tentara muda menikah agar mereka tak "melempem" di medan tempur. Namun, Uskup Valentine melanggar perintah itu dan menikahkan salah satu pasangan secara diam-diam. Ia dieksekusi mati saat sang penguasa mengetahui pernikahan rahasia itu. Saat ia dipenjara, legenda menyebut bahwa pria asal Genoa itu lantas jatuh cinta dengan putri orang yang memenjarakannya. Sebelum dieksekusi secara sadis, ia membuat surat cinta pada sang kekasih.





Jauh hari sebelum perayaan valentine, meja di mal ataupun di supermarket hampir dipenuhi dengan pernak-pernik valentine diantaranya, hiasan bunga dan diskon makan malam gratis.





Jika hari valentine tiba tak jarang terdengar ucapan “Adakah cokelat.” Valentine pada umumnya dirayakan oleh anak muda dengan orang tercinta yang identik dengan cokelat, bunga atau pun surat yang berisikan ungkapan kasih sayang. Namun di sisi lain banyak orang yang tidak setuju, “Hari kasih sayang itu bukan hanya hari valentine tapi tiap harinya pun” setiap orang punya pandangan tersendiri.





Tidak ada salahnya kalau dikatakan, hari valentine budaya zina berkedok kasih sayang, sebagian anak muda yang kurang ilmu dan iman menjadikan momen valentine sebagai ajang zina mulai dari zina mata hingga kemaluan yang semuanya itu dibungkus dalam satu tipuan setan disebut dengan “Kasih sayang” pada hakikatnya hanya mendatangkan murka.





Allah SWT berfirman:







وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا





“Dan janganlah kamu mendekati sesungguhnya zina itu suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” (Qs. Al-Isra ayat 32).





Sadar atau tidak, merayakan hari Valentine, berarti dia ikut melakukan penghormatan kepada orang Nasrani yang dianggap sebagai 'pahlawan cinta'.
Di masa sekarang ini, jalan hidup Yahudi dan Nasrani mana yang tidak ditiru kaum muslimin? Mulai gaya berpakaian, gaya makan, gaya penampilan, gaya hidup, hingga gaya beragama bagi banyak orang Yahudi dan Nasrani,termasuk pula kompilasi hari Valentine. Saling memberi cokelat, bunga, kado, pergi ke pesta, serta gaya hidup orang-orang Yahudi dan Nasrani lebih banyak kita dapati pada hari ini. Lantas, ke mana rasa Ridha dan bangga kita terhadap agama Islam harus mengikuti tradisi dan kebiasaan orang non muslim? Ikut memeriahkan hari valentine dengan cara apa pun, sama saja dengan meminta kebiasaan orang Non Muslim.





Terkhusus buat para wanita yang hilang rasa malunya, jangan karena cokelat dan romantisme picisan, merelakan bagian yang paling berharga pada diri anda. Laki-laki yang saat ini menjadi pacarmu, bukan jaminan dia bisa menjadi suamimu. Bisa jadi kamu sangat suka kasih sayang nyanyikan kekasih, namun di balik itu, obsesi pacarmu terbesar hanya ingin melampiaskan nafsu binatang dan mengambil madumu.





“Lelaki romantis itu bukan yang cuma kasih cokelat, kata-kata memikat dan setangkai bunga mawar, tetapi lelaki romantis itu yang tak berani menyentuh wanitanya sebelum ia menghadap walinya untuk melamar.”





WhatsApp : 085396410006





Editor: Mifda Hilmiyah


Selasa, 11 Februari 2020

Anregurutta Ambo Dalle Tokoh Pendidikan Islam di Sulawesi Selatan


Resensi Buku (Bagian 2)
Peresensi Buku : Suherman Syach
Judul Buku : Anregurutta Ambo Dalle: Maha Guru dari Bumi Bugis
Penulis Buku : H. M. Nasruddin Anshory Ch.
Penerbit : Tiara Wacana Yogyakarta
Tahun Terbit : 2009
Tebal : 180 halaman





Kharismah gurutta Ambo Dalle menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk datang ke Mangkoso menuntut ilmu agama Islam. Waktu yang relatif singkat, MAI Mangkoso berkembang dengan pesat. Anregurutta mengelola MAI mengacu pada realitas sosial budaya masyarakat. Karena masyarakat berhadapan dengan masalah moral, maka gurutta lebih fokus pada pengajaran akhlak berdasarkam Al- Quran. Selain al- Quran sebagi referensi utama, diajarkan juga tafsir, hadist, tauhid, fiqih, ushul fiqih dan sejarah Islam. Anregurutta berhasil memimpin pesantren dengan prinsip melaksanakan pembaruan nilai Islam dengan tidak meninggalkan khasanah budaya Bugis. Di arena kultur dan tradisi bugis, Anregurutta bisa menerjemahkan agama Islam secara pas dengan memunculkan simbol baru yang diterima semua kalangan.





Pada bagian keempat, penulis membahas terkait sejarah berdirinya salah satu organisasi berpengaruh di Indonesia khususnya di Sulawesi Selatan, yaitu DDI. Singkatan dari Darud Dakwah wal- Irsyad. DDI merupakan perwujudan pengembangan MAI Mangkoso. Nama DDI adalah permufakatan alim ulama ahlisunnah wal jamaah di bawah kepemimpinan Anregurutta Ambo Dalle. Melalui DDI, Anregurutta menyatukan seluruh potensi MAI yang ada di daerah dan menatanya untuk membenahi sepak terjang umat Islam bagi masa depan Sulawesi Selatan. Pada bagian ini, penulis mengisahkan bagaimana situasi sulit di tengah berdirinya DDI, yaitu terjadinya pembantaian yang dilakukan pasukan Westerling di Sulawesi Selatan.





Pada bagian keenam dari buku ini, penulis mengisahkan dinamika dan peristiwa yang terjadi dalam organisasi DDI. Termasuk rentetan peristiwa yang dialami DDI ketika Anregurutta berada di dalam hutan kurang lebih 8 tahun lamanya. Selama ditinggalkan Andregurutta, DDI telah melakukan empat kali muktamar. Peristiwa yang mengharukan terjadi pada muktamar DDI ke- 10 pada tahun 1965, ketika Anregurutta kembali dari hutan dan terpilih kembali memimpin DDI. Muktamar ini sempat disabotase oleh orang-orang PKI kala itu. Pada muktamar berikutnya, penulis menggambarkan jika dalam tubuh DDI mulai muncul persaingan pengaruh. Khususnya bagi tokoh DDI yang terlibat politik praktis. Salah satu isu yang diperdebatkan dengan sangat alot adalah masalah lambang DDI.





Pada bagian akhir buku ini, penulis membeberkan keberhasilan dan pengaruh Anregurutta Ambo Dalle dan DDI dalam mengemban visi pendidikan, dakwah dan sosial di Indonesia. Mengutip pernyataan K.H. Syamsul Bahri, seorang santri dan sahabat Anregurutta Ambo Dalle menyatakan bahwa DDI telah tersebar ke 14 provinsi di Indonesia dengan berbagai lembaga pendidikan berbentuk pesantren atau pun madrasah. Selain madrasah, DDI juga telah mendirikan perguruan tinggi Islam, Univeraitas DDI yang berpusat di Parepare. Fakultas Tarbiyah UI DDI dibentuk di Pinrang dan Fakultas Syariah di Mangkoso. Sementara, Fakultas Tarbiyah di Parepare di integrasikan menjadi Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin. Ini lah menjadi cikal bakal IAIN Parepare yang ada hari ini.





Buku ini terasa sempurna karena dikuatkan dengan kata pengantar dan epilog dari tokoh terkemuka yang juga bagian tak terpisah dari DDI, yaitu Prof. K.H. Alie Yafie, Prof. Dr. Nurhayati Rahman dan Dr. Anhar Gongong. Ketiga tokoh ini memberikan penguatan dari fakta dan peristiwa sehingga menambah khasanah pengetahuan yang tertuang dalam buku ini. Kekurangan buku ini karena penulis buku seringkali mengungkapkan fakta sejarah secara berulang dan tidak menguraikannya secara sistematik, sehingga menimbulkan kebingungan pembaca dalam memahami sejarah dan peristiwa. (Terakhir)


Senin, 10 Februari 2020

Anregurutta Ambo Dalle Tokoh Pendidikan Islam di Sulawesi Selatan


Resensi Buku (Bagian 1)





Peresensi Buku : Suherman Syach
Judul Buku : Anregurutta Ambo Dalle: Maha Guru dari Bumi Bugis
Penulis Buku : H. M. Nasruddin Anshory Ch.
Penerbit : Tiara Wacana Yogyakarta
Tahun Terbit : 2009
Tebal : 180 halaman





Buku ini termasuk langka. Masih sulit menemukan buku atau pun tulisan yang mengurai secara lengkap sosok, perjalanan dan perjuangan Andregurutta Ambo Dalle. Penulis buku ini, H. M. Nasruddin Anshory Ch., secara runtut mengisahkan sosok Anregurutta Ambo Dalle mulai masa kanak-kanak, remaja, hingga masa perjuangan, pengabdian dengan berbagai peristiwa penting yang terjadi di dalamnya.





Menurut pengakuan H. M. Nasruddin Anshory Ch dalam catatan pengantarnya, buku ini merupakan hasil riset yang dia lakukan secara langsung kepada Anregurutta Ambo Dalle selama 8 bulan. Pada tahun 1988, penulis tinggal satu atap dengan Anregurutta Ambo Dalle bersama keluarga dan santri-santrinya. Hal ini memungkinkan bahwa fakta-fakta yang tertuang dalam buku ini merupakan penuturan atau perbuatan langsung dari Anregurutta Ambo Dalle. Sehingga bisa disimpulkan bahwa uraian peristiwa dan fakta dalam buku ini sebagai sesuatu yang orginil datang dari Gurutta.





Buku ini dibagi dalam tujuh bagian bahasan. Pada bagian pertama, penulis mengisahkan kelahiran dan masa kecil Ambo Dalle di Desa UjungE Kecamatan Tanasitolo. Desa ini terletak 7 kilometer dari Kota Sengkang, tempat kelahiran Ambo Dalle dari orangtuanya Puang Ngati Daeng Patobo dan Puang Candra Dewi. Orangtua Ambo Dalle salah satu tokoh yang terpandang dan dituakan di kampungnya. Bagian ini juga mengisahkan budaya bugis yang berkembang di kala itu dan situasi peperangan yang sering terjadi dengan penjajah.





Dinamika budaya bugis dan situasi peperang dengan penjajah itulah yang menurut penulis menyertai masa kecil Ambo Dalle. Hidup di tengah masyarakat Bugis yang sangat kental dengan ajaran Islam, membawa Ambo Dalle kecil belajar agama Islam. Mulai dari belajar mengaji, menghafal al-Quran, belajar ilmu nahwu dan syaraf, hingga tafsir al- Quran. Masa remaja Ambo Dalle dihabiskan untuk belajar. Untuk memperluas keilmuannya, Ambo Dalle berangkat ke Makassar dan menimba ilmu di Sekolah Guru Syarikat Islam dan belajar ilmu agama kepada ulama-ulama alumni Mekkah, seperti H. Syamsuddin dan Sayyid Ali al- Ahdal.





Dikisahkan bagaimana Ambo Dalle belajar dan berkolaborasi dengan gurutta H. As'ad di Sengkang. Awalnya Ambo Dalle mustami' pengajian yang rutin digelar gurutta As'ad. Hingga akhirnya, keduanya menjadi sahabat yang berjuang bersama dalam dakwah Islamiyah. Ketika gurutta H. As'ad mendirikan Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI), Ambo Dalle terpilih sebagai salah satu tenaga pendidik utamanya. Kolaborasi gurutta H. As'ad dan gurutta Ambo Dalle yang diceritakan dalam bagian kedua buku ini merupakan cikal bakal pendidikan Islam modern di Sulawesi Selatan. Mereka berdua adalah perintis dan pendiri lembaga pendidikan formal, berupa madrasah pesantren di pedalaman Sulawesi Selatan.





Pada bagian ketiga dari bahasan ini. Penulis memberi judul Merintis Jalan Pembaharuan. Bagian ini mengisahkan pendirian pesantren atau MAI di luar Kabupaten Sengkang, yaitu di daerah Soppeng Riaja Kabupaten Barru. Sejak berdirinya, MAI Sengkang mengalami kemajuan yang cukup pesat. Jika awalnya, MAI dipusatkan di rumah gurutta, karena minat masyarakat yang semakin tinggi, maka MAI dipindahkan ke Masjid Raya Sekkang. MAI Sengkang menggaung ke pelosok Sulawesi Selatan. Banyak santri dari berbagai penjuru datang ke Sekkang untuk menuntut ilmu agama. Masyarakat Sulawesi Selatan bergairah untuk mempelajari dan memperdalam ilmu agama Islam melalui madrasah. Sayangnya, gurutta H. As'ad dengan prinsip kehatian-hatianya tidak berkeinginan membuka cabang-cabang MAI di luar Sengkang.





Sesaat Anregurutta Ambo Dalle pulang menunaikan haji pada tahun 1935. Kepala Swapraja Soppeng Riaja mengajukan permohonan untuk mendirikan madrasah MAI di daerahnya dan meminta gurutta Ambo Dalle sebagai pengajar utamanya. Oleh gurutta H. As'ad permintaan ini ditolak dengan alasan, kepergian gurutta Ambo Dalle akan menghambat kemajuan MAI. Tetapi hasrat dan semangat yang kuat dari Petta Soppeng Riaja mendirikan madrasah, akhirnya meluluhkan hati gurutta H. As'ad dan merelakan gurutta Ambo Dalle berpindah ke Soppeng Riaja untuk memimpin MAI di Mangkoso Kabupaten Barru. Anregurutta Ambo Dalle pindah dari Sengkang ke Soppeng Riaja Barru terjadi pada tanggal 21 Desember 1938 bertetapan 29 Syawal 1357 Hijriyah.





Bersambung........... (2)


Minggu, 09 Februari 2020

Arah Pendidikan di Tangan Sang Founder Gojek


Oleh : Musmulyadi, S.H.I.,M.M
(Dosen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, IAIN Parepare)





OPINI --- Satu hal yang sering luput dari perhatian kita adalah pentingnya arah mengevaluasi arah pendidikan kita di Indonesia. Tujuan pendidikan merupakan masalah central dalam filsafat pendidikan. Secara umum tujuan diartikan sebagai perbuatan yang diarahkan kepada suatu maksud yang hendak dicapai melalui upaya atau aktivitas.





Tujuan akan mengarahkan tindakan dan perumusan tujuan pendidikan yang benar merupakan inti dari seluruh pemikiran pedagogis dan perenungan filosofis. Oleh karena itu, tanpa merumuskan tujuan dan arah pendidikan yang tepat, maka semua usaha perbaikan hampir pasti akan berakhir dengan kegagalan.





Arah pendidikan tidak pernah lepas dari tujuan hidup manusia. Sejak kita lahir sampai akhirnya tercipta pertanyaan, “Kemana arah kehidupan ini?” Oleh karena itu, langkah awal yang harus kita lakukan untuk memperbaiki pendidikan kita adalah merumuskan ke mana arahnya.





Sejak duduk di bangku sekolah hingga perguruan tinggi, seharusnya seseorang sudah diberikan bekal pendalaman ragam profesi secara intens. Dalam persaingan global yang sangat sengit, sekolah dituntut untuk mengenalkan sikap profesionalisme dan ragam profesi.





Ketika mendengar ucapan tersebut, saya sebagai warga negara Indonesia mencium aroma sedap saat penyambutan dan harapan-harapan yang membuncah atas terpilihnya Nadiem Makarim sebagai Mendikbud “Sang Founder Gojek.” Presiden Joko Widodo menunjuk Nadiem yang merupakan salah satu sosok generasi milenial yang kini menangani masalah pendidikan dasar, menengah dan perguruan tinggi.





Halaman selanjutnya....





Apakah pertimbangan sang Presiden? Bagaimana respon masyarakat? tentunya ada Pro dan ada yang Kontra....













Melihat aspek perubahan mendasar yang diharapkan terjadi pada arah kebijakan pendidikan di tangan menteri Nadiem, yaitu soal pentingnya fondasi akhlak dan adab pada setiap jenjang pendidikan. Jangan sampai dunia pendidikan di Indonesia melahirkan manusia yang pintar cari makan, tetapi jahat, serakah, dan tidak peduli pada sesama insan, apalagi melahirkan manusia yang tidak profesional, tidak berguna, buruk pula akhlaknya.





Sudah barang tentu, kita tidak ingin pendidikan di Indonesia diarahkan pada tujuan-tujuan jangka pendek yang hanya memperhatikan urusan yang bersifat sementara saja, benar pendidikan perlu melek kemajuan teknologi, akan tetapi jangan lupa ilmu dan pengetahuan yang membangun hakikat dan jati diri sebuah bangsa yang besar tidak boleh dilupakan.
Sehingga anggapan bangsa kita sekarang laksana raksasa yang terlupakan (forgetfull giant) tidak mampu mengidentifikasi potensi dan kekuatan dirinya adalah hal yang keliru.





Nadiem lebih dikenal kontribusinya dalam dunia ekonomi dan financial technology dengan Gojek dan Gopay-nya. Nadiem memiliki beberapa gebrakan baru usai dilantik sebagai Mendikbud oleh Presiden Joko Widodo. Beberapa di antaranya adalah mengganti Ujian Nasional (UN) dengan sistem penilaian baru dan mengubah konsep pilihan ganda di Ujian Sekolah.





Selain itu, Nadiem juga mengubah sistem zonasi yang selama ini kerap menimbulkan masalah. Walaupun diubah, Kemendikbud tetap menggunakan sistem zonasi saat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang lebih fleksibel. Nadiem juga ingin merubah konsep pilihan ganda di Ujian Sekolah, dan selain Tunjangan Profesi kini ada tambahan tunjangan lain. Ketum Ikatan Guru Indonesia (IGI) Ramli Rahim merespons positif.





Beberapa waktu yang lalu Founder Gojek ini juga menyuarakan “Kampus Merdeka“ dimana ia akan melakukan gebrakan terhadap perguruan tinggi, S1 cuma wajib kuliah 5 semester dan sisanya, Perguruan Tinggi wajib memberikan hak bagi mahasiswa untuk secara sukarela (dapat diambil atau tidak) mengambil Sistem Kredit Semester (SKS) di luar kampus tinggi sebanyak 2 semester (setara 40 SKS).





Di samping itu, mahasiswa boleh mengambil SKS di prodi berbeda di Perguruan Tinggi yang sama sebanyak 1 semester (setara dengan 20 SKS). Ketentuan itu nantinya tertuang dalam paket kebijakan Merdeka Belajar:
Pembuktian.





Catatan penting buat Nadiem adalah “Pembuktian”. Masyarakat menunggu pembuktian pertama dari Nadiem. Dan cara termudah dan tercepat sebagai langkah awal menjawab pembuktian itu adalah menuliskan gagasan dan pemikiran pendidikan seorang Nadiem Makarim.





Dalam konsep pendidikan Islam, pendidikan memiliki empat domain utama, yaitu tadrib (pembinaan fisik), ta’dib (penanaman iman dan adab), tarbiyah (pengembangan potensi dan kompetensi), dan ta’lim (pengajaran ilmu pengetahuan). Sementara, Kihajar Dewantara menyebutnya dengan istilah olah raga, olah pikir, olah rasa, dan olah karsa.





Karena itu, tantangan Nadiem adalah keluar dari jebakan pragmatisme pendidikan, apalagi bila sampai terperangkap dalam kapitalisme pendidikan. Membangun peradaban bangsa selalu dimulai dengan membangun manusianya. Sarana paling strategis membangun manusia adalah melalui pendidikan. Kita tidak ingin pendidikan kita sekadar menghasilkan SDM siap kerja yang tidak berbeda jauh dengan robot. (*)





Hp/wa : 085396410006


Sabtu, 08 Februari 2020

WOW EFFECTS & GO SPIRIT: Sebuah Renungan


By. Budiman Sulaeman, S.Ag., M.HI





Dosen IAIN Parepare





OPINI. Judul di atas terinspirasi dari tiga hari penuh penulis menikmati Workshop Tunas Integritas IAIN Parepare di penghujung 2019, tepatnya 17-19 Desember bersama 40 peserta yang wow (wakil rektor, dekan, wakil dekan, ketua dan sekretaris lembaga, kepala bagian, kepala sub bagian, kepala pusat dan anggota senat) dengan menghadirkan duo trainer hebat nan mengesankan, Kang Asep Chaeruloh dan Ryan Herviasnyah Utama.





Sesaat setelah kegiatan resmi ditutup Rektor IAIN Parepare Bapak Dr. Ahmad Sultra Rustan, M.Si. tiba-tiba ingatan penulis meluncur ke perhelatan pilpres dan pileg yang lalu. Sejumlah dialog imajinatif di pikiran penulis menggelayut yang berujung pada kesimpulan: “Andaikata perhelatan pilpres dulu betul-betul ditata dengan nilai-nilai PANCASILA dan terinternalisasi serta terimplementasi dalam sikap dan perilaku, maka masyarakat pasti bahagia menikmati pilpres”.





Pilpres (pemilihan presiden), pileg (pemilihan legislatif) atau pilkades (pemilihan kepala desa) idealnya mampu membuat pikiran fresh, senyum tulus walau nirfulûs. Tidak membuat kita stress, senyum sinis walau sudah dipaksakan manis. Kondisi ini tersaji akibat semua merasa diri paling benar.





Banyak faktor yang membuat kondisi seperti itu tersaji. Namun dapat disederhanakan menjadi 2 (dua) faktor: internal dan eksternal. Faktor internal indikasinya banyak, namun yang pasti manusia asyik memperturutkan birahi kekuasaannya. Faktor eksternal pun demikian. Indikasinya beragam, namun dapat disimpulkan: manusia terjebak pada WOW Effects; rayuan politis-puitis setan dan konco-konconya. Pikirannya negatif, pandangan batinnya buta, ilmunya lumpuh, dan nuraninya terselubungi kabut zhulmâni (kegelapan).





‘Ibâdallâh…!!! Camkan, WOW Effects itu bekerja halus, nyaris tak terdengar, sulit terpantau, tidak mudah terdeteksi karena rayuannya silent (diam, tidak terasa) dan lebih banyak berawal dari sesuatu yang terlihat atau terasa biasa dan absah. Terlihat dan terasa bukan sebuah pelanggaran. Misalnya, pada mulanya duduk di atas kursi (politik) hanya dalam rangka memperjuangkan hak-hak warga. Namun dalam perjalanannya, niat tulus itu berubah arah dan dibelokkan. Keberadaan kursi berubah menjadi ajang untuk unjuk kekuasaan.





Awalnya memiliki/’membeli’ kendaraan (politik) dianiati untuk memudahkan pergerakannya dalam bekerja dan mengabdi. Namun, WOW Effects mengipas-ngipasi. Akhirnya niatnya bergeser. Kendaraan itu beralih fungsi menjadi alat untuk menancapkan kuku dan cengkraman kekuasaannya.





Pada mulanya mengenakan baju (politik) dengan niat untuk menutupi aurat agar auranya di hadapan warga sebagai manusia terhormat tetap terjaga. Namun, WOW Effects memanas-manasi. Akhirnya niat sucinya berubah menjadi ajang menumbuh-suburkan sifat kibr (kecongkakan) di dalam hatinya, melegalkan sifat dan perilaku takabbur di tengah komunitasnya. Baju yang dipakai, secara ritual masih terlihat gagah. Namun sejatinya, secara moral, baju kebesarannya telah lucut dan copot, tetapi masih bisa mengumbar senyum padahal sudah mengalami ketertelanjangan spiritual.





Awalnya tergerak untuk terjun ke panggung politik praktis dengan niat suci: membumikan keadilan dan kebenaran; mengutamakan kepentingan umum/negara di atas kepentingan pribadi atau golongan; mengukuhkan semangat persatuan dan kesatuan bangsa; dan memberi pendidikan politik santun, ramah dan bersahaja kepada masyarakat. Namun dalam perjalanan karier politiknya, justru mereka membumi-hanguskan keadilan dan kebenaran; sibuk mengurusi kepentingan pribadi atau golongan walau sesekali dibumbui penyedap rasa “atas nama rakyat”; mengoyak-ngoyak persatuan dan kesatuan bangsa; mempertontonkan politik culas, kasar dan hipokrit untuk menjatuhkan lawan (tepatnya: kawan).





Itu sebabnya, Allah mewanti-wanti kita agar secara cerdas melakukan deteksi dini terhadap WOW Effects yang dapat berwujud jebakan, perangkap, strategi dan langkah cerdik namun bertahap dari setan dalam menjerumuskan umat manusia. Sebagaimana firman Allah dalam QS. al-Baqarah [2]:168:






وَلا تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِين





Terjemah:
“… dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; (karena) sesungguhnya ia (setan) adalah musuh yang nyata bagimu. ”





‘Ibâdallâh…!!! Tidak semua manusia memiliki kemampuan menepis WOW Effects itu. Tidak semua mampu menjadikan setan sebagai musuh abadi. Mengapa? Boleh jadi karena ia tergiur berbagai iming-iming hoax (bohong) setan walau kelihatannya haq, silau dengan gemerlap dunia dan menawarkan pil yang katanya bisa membuat fresh dan menghilangkan stress. WOW Effects ini kerap membutakan mata batin dan nurani manusia. Itu sebabnya, sejak awal Allah mengingatkan dalam QS. Fâthir [35]:6:





إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا





Terjemah:
“Sesungguhnya setan adalah musuh (besar) bagi kamu, maka jadikanlah ia musuh…”





Firman Tuhan ini sejatinya mem-bluetooth pesan ke alam bawah sadar dan lubuk hati terdalam manusia bahwa sejatinya manusia telah mengerti semengerti-mengertinya bahwa WOW Effects itu harus menjadi musuh besar dan abadi dalam kehidupan. Namun sayangnya, manusia seringkali belum mampu memosisikannya sebagai musuh abadi-sejati.





WOW Effects hanya menjadi musuh dalam teori, namun kerap menjadi kawan sejati dalam praktik. Kondisi ini mesti disikapi dengan terus berupaya mengasah kesadaran yang bersumber dari dalam: “inside out”, bukan “outside in”. Mengatasinya bukan hanya melakukan ritual semata dan sesuatu yang biasa, tetapi juga mesti digerakkan secara SPIritual (Super-berPrinsip-Ideal) dan luar biasa yang melibatkan Ruh, Rasa, Raga dan Rasio (4R) secara integral, profesional, berintegritas. Ayo teriakkan: GO SPIRIT…!!![]


Kamis, 06 Februari 2020

Lontara Paseng: Spirit Menghindari Plagiarisme


Oleh: Dr Agus Muchsin, M.Ag  (Wakil Dekan Bidang AUPK Fakultas Syariah IAIN Parepare)





Opini----- Aja muala aju pura rette' walie nakotennia iko rette'i, aja' to muala aju ripasanre'e, kotennia iko pasanrei.





Artinya : Jangan kau ambil kayu yang sudah dipotong ujung dan pangkalnya. Dan jangan pula engkau ambil kayu yang tersandar, kalau bukan kau yang sandarkan.





Seuntai kalimat pesan bijak dari bugis dengan mengangkat simbol perlakuan terhadap kayu sebagai sampel pesan moral. Kuat dugaan kalau pesan tersebut sumbernya dari kampung pinggiran, terisolir jauh dari pusat keramaian karena indikatornya adalah kayu bakar yang biasanya menjadi sumber energi bagi masyarakat desa. Meski demikian, ternyata menjadi instrumen dalam menyampaikan pesan bijak





Simbol kayu bakar juga pernah disampaikan oleh Allah swt dalam QS. Al Lahab. Isteri Abu Lahab diadzab dengan membawa kayu bakar (حمالة الخطب) dalam neraka. Pesan moral dari kata Pembawa kayu bakar secara simbolik dimaknai sebagai orang ahli mendesain dan menciptakan konflik, sebut saja sebagai provokator. Api neraka yang menyala ditambah dengan kayu bakar tak ubahnya seperti menyiram api dengan bensin.





 Konteksnya berbeda, namun sampel kayu cukup menarik. "Aju pura Rette Wali" merupakan indikator bahwa pada kayu itu ada orang pernah menanamkan jasa dengan adanya bekas potongan. "Aju ri Pasanre" dalam pemaknaannya adalah kayu yang disandarkan. Penjabaran dari pesan ini dikuatkan dalam teks lain "De' tu nasanre' bawang ajue, engkami tau pasanre'i". Artinya, kayu tidak akan bersandar sendiri kecuali ada orang yang menyandarkannya.





 Kinerja, karya dan hak sepertinya menjadi pesan utama untuk memilih sebuah sikap penghargaan terhadapnya, karena akan menuntut pertanggung-jawaban moralitas untuk tidak mengambil hak orang lain. Anggaplah plagiarisme dengan menjiplak atau mengambil karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dengan menjadikan seolah karangan dan pendapat sendiri. Satu delik berupa pelanggaran atas upaya memprivatisasi hak orang.





 Delik ini sebenarnya dideskripsikan secara ijmali (universal) dalam ayat ayat mu'amalah Surah al Baqarah (2) : 188.





ولا تاكلوا اموالكم
بالباطل





Terjemahnya:





Dan janganlah engkau memakan harta kalian secara
bathil.





Syekh Jalaluddi al
Suyuthi dalam tafsir Jalalain term "ta'kulu'"
artinya makan dalam pemahan konteks lain identik "tadhammamu" artinya menggabungkan dengan tendensi ingin
memilikinya  dengan menyebutnys
kedzaliman terhadap orang lain (  يظلم الرجل
منكم صاحبَه،).





Di era 4.0 sebuah tradisi baru lahir dari para kompititer
untuk sebuah eksistensi dengan tidak mengenal jenis aktivitas. Di dunia usaha
pendidikan tidak sepenuhnya steril dari plagiat. Nilai-nilai yang telah
tertanam melalui doktrin "papaseng"
dan dogma diabaikan.





 Perubahan adalah sebuah keniscayaan namun terdapat nilai-nilai kultur budaya dan Islam yang terkonstruksi dalam berbagai dimensi, oleh sosiolog disebutnya sebagai integrasi. Bagi civitas akademika Institut Agama Islam (IAIN) Parepare dijadikan visi yang menjiwai pengembangan ke depan yakni Integrasi antara Islam dan Budaya.





 Solusi terbaik adalah menanamkan pemahaman dan mengembalikan nilai-nilai tersebut, tidak hanya melalui cerita pengantar tidur, namun dituangkan dalam kurikulum pendidikan dari generasi Bugis.





Editor: Mifda Hilmiyah


Senin, 03 Februari 2020

Lontara’ Paseng Inspirasi Menuai Kebaikan






Oleh: Dr Agus Muchsin, M.Ag  (Wakil Dekan Bidang AUPK Fakultas Syariah IAIN Parepare)





Pakkawarui madecenge





Sappai
madecenge





Pugaui
madecenge





Deceng
tu polena





Lontara’ Paseng merupakan tulisan yang tertuang dalam lontara’ yang berisi pesan pesan bijak dari pendahulu orang bugis. Penulis tertarik dengan kalimat di atas yang  diunggah melalui fb hari senin tanggal 3 Februari 2020. Sumber:https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=115663583256507&id=101740281315504





Pesan
bijak ditanamkan oleh pendahulu
bugis tersebut sebaiknya menjadi pegangan saat beraktifitas, terutama dalam
membangun kinerja. Pesan tersebut bukan hanya meliputi perbuatan semata tapi
tidak berbatas. Kebaikan tidak cukup untuk dilaksanakan tapi menjadi sebuah
ideologi dari nilai nilai etis, dicari, dilakukan
karena akan menghasilkan kebaikan. Rentetan kalimat lontara’
tersebut relevan dengan paradigma filosofis.





Corak
ini sebenarnya juga dilakukan oleh Rasulullah saw saat menyampaikan kebenaran,
paradigma dibangun melalui rentetan kalimat seperti dalam Hadis riwayat Bukhari
dan Muslim





عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ،
فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ،
ومَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ ويَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ
صِدِّيقًا  . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.





Artinya:





Hendaklah kalian
melakukan kebenaran/kejujuran karena kejujuran akan menggiring pada kebaikan
dan kebaikan akan menggiring pada syurga. Tidaklah seseorang berlaku jujur dan
membiasakan kejujuran hingga ia tercatat sebagai orang yang jujur (HR. Bukhari
Muslim)





Dua
paradigma di atas secara filosofis
dikaji dalam ilmu manthiq dengan
memperhatikan  tiga unsur: mawdhu', mahmul dan rabithah
(hubungan antara mawdhu' dan mahmul). Berdasarkan masing-masing unsur
maka tersusunlah satu kalimat natijah,
sebut saja sebagai simpulan.





Deceng tu Polena
adalah deskripsi bahwa pelaku kebaikan akan menuai kebaikan, jika ideologi
kebaikan ditanamkan, niat dan pikiran
hingga perbuatannya mencerminkan kebaikan. Kebaikan
ini diperkenalkan dalam Alqur'an dalam beberapa term seperti al Khair (الخير), al Bir(البر), al Ma'ruf(المعروغ ), al
Hasanah
(الحسنة), dll. Beberapa terminologi tersebut memiliki proporsi dalam
penggunaan dan pemilihan kata dalam kalimat. Term al khair seperti dalam potongan hadis "خير الناس" berarti
sebaik-baik manusia merupakan kebaikan berskala umum yang meliputi keuntungan,
manfaat, kesejahteraan, kesehatan, keberkahan, kenikmatan dan kekayaan.





Al hasanah
yang tertuang dalam doa sapu jagat adalah kebaikan berupa keuntungan, jasa,
derma, shadaqah. Sementara kebaikan dalam term al bir berupa keikhlasan, sumbangan dan derma. Berikut al ma'ruf adalah lebih terkesan pada
metode yakni dengan cara baik, keramahan, kemurahan hati
dan pelayanan. Bentuk
pemaknaan leksikal di atas akan memberikan khazanah intelektual dalam memahami
dan menjabarkan kebaikan sesuai standarisasi moralitas agama dengan eksplorasi
llmiah terhadap manfaat "mappideceng".


Sabtu, 01 Februari 2020

Buku Iqro Sudah Lama Memprediksi Terjadinya Virus Corona, Benarkah ?


Oleh : Musmulyadi, S.H.I.,M.M





Dosen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, IAIN Parepare





OPINI -- Beberapa pekan terakhir ini dunia dihebohkan dengan kabar Virus Corona yang telah menyebar dan mampu menyebabkan kematian. Persentase kematian mengenai virus corona sangat tinggi dan berbahaya sebab sudah mulai menjelajah di berbagai negara.





Menurut berbagai klaim yang menyebar, virus corona tersebut merupakan virus buatan pemerintah China yang disimpan di markas militer di Wuhan. Rencananya, virus itu akan disebarkan ke seluruh dunia demi menarik uang dari hasil penjualan vaksin.





Setelah dianalisa dan dilakukan kajian, diduga virus corona sengaja dibuat pemerintah China sebagai senjata biologis yang mematikan. Ada dugaan terjadi kebocoran penyimpanannya di markas militer di Wuhan. Yang menjadi pertanyaan, kenapa hanya di Kota Wuhan korban pada berjatuhan seketika? Hal ini menimbulkan tanda tanya besar, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa kebocoran virus corona mencemari udara kota Wuhan dan yang sempat menghirup jatuh dan mati seketika.





Ada juga pendapat Ahli yang mengatakan virus corona Wuhan berasal dari kelelawar karena lebih dari 75% penyakit yang muncul berasal dari hewan yang dinamakan penyakit “zoonosis” dengan artian penyakit yang berpindah dari hewan ke manusia. Banyak juga orang yang tidak sependapat dengan hal tersebut, akan tetapi masyarakat Indonesia pun harus waspada agar tidak menjangkiti warga karena virus cepat menyebar dari manusia ke manusia.





Dalam pandangan Islam di dalam Al-Quran memang tidak ada disebutkan larangan memakan daging kelelawar secara eksplisit. Kalaupun ada yang mengharamkan, maka sesuatu yang haram boleh dimakan atau dipergunakan sepanjang kondisi yang darurat, dalam artian memang tidak ada lagi obat yang halal dan apabila tidak dipergunakan, maka penyakitnya akan menjadi lebih parah. Penyakitnya tidak akan bisa sembuh atau bahkan berakibat menjadi mati.





Tapi sepanjang masih ada obat atau alternatif yang lain, maka tidak ada rukhshoh, tidak pula ada toleransi.





Imam Syihabuddin mengatakan, “Apa yang dilarang dibunuh, berarti haram dimakan.” Sementara banyak orang yang menggunakan kelelawar ini sebagai obat penyakit sesak nafas atau asma. Namun semuanya berubah seketika dengan adanya virus corona, kelelawar yang dulunya disebut sebagai obat berubah menjadi pembawa virus.





Dengan kemunculan virus ini di Kota Wuhan China, banyak manusia yang mencocokologikan antara virus corona dengan Al-Quran. Padahal Agama kita ini adalah agama dalil bukan agama cocokologi “Tanpa Ilmu.”





Banyak warganet di media sosial yang mengatakan bahwa virus corona tercipta pada zaman pendusta yang sudah ada sejak zaman dulu. Begitu komentar salah satu dari akun media sosial.





Dapatkan berbagai berita update kampus dan opini menarik lainnya di www.iainpare.ac.id




Padahal yang mereka terjemahkan ini buku belajar membaca Al-Qur’an atau biasa kita sebut Iqra’, bukan buku bahasa arab yang bisa diartikan dan menjadi suatu kalimat. Jangan mencocoklogikan suatu yang tidak ada hubungannya apalagi yang berkaitan dengan agama, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.





“Qo-Ro-Na” itu artinya menemani, kalau virus yang lagi viral itu “Kurunaa” (dalam bahasa arab) pakai huruf “kaf” bukan “qof”. Bisa dilihat di berita-berita timur tengah “Kholaqo” itu artinya menciptakan, kalau diciptakan itu “khuliqo” pakai Fi'il Madhi Majhul.





Kadzaba juga fiil madhi yang artinya berbohong. Kalau mau diartikan sebagai "dusta/bohong" maka harus pakai mashdar "kadzibun", tidak boleh pakai fiil madhi. Ingat, bahasa arab itu tidak bisa sembarangan diterjemahkan. Salah harakat salah arti.





Salah satu korban dari cocoklogi (disinformasi) istri penyanyi religi yang menampilkan salah satu halaman di buku tersebut yakni di bagian huruf “nun”.





Di situ ada bacaan 'qorona' yang digarismerahkan. Istri sang penyanyi religi itu juga menggarismerahkan beberapa kata seperti 'khalaqo', 'zamana', dan 'kadzaba'. Keempat kata itu diartikan yang keseluruhannya ialah Virus Qorona tercipta pada zaman penuh dusta. “Tidak ada kata kecuali kata “Subhanallah” segalanya tiada ada yang kebetulan, yakinlah bahwa setiap kejadian di alam semesta ini baik itu ucapan, perbuatan, tulisan ada dalam kekuasaan dan pengetahuan Allah, karena tidak akan terjadi kecuali jika Allah tidak mengizinkan," tulisnya di Instagram.





Boleh saja setiap orang memiliki penafsiran yang berbeda dalam memandang suatu peristiwa, bahkan tidak sedikit orang yang berbeda pendapat terkait persoalan virus ini. Namun sebenarnya masalah yang urgent sekarang bukan terletak pada penafsiran virusnya, tetapi bagaimana cara mengantisipasi agar virus ini tidak masuk ke Tanah Air.





Senada yang disampaikan oleh Plt Kepala Biro Humas Kementerian Kominfo Ferdinandus Setu bahwa, "Memperhatikan jumlah hoax terkait Virus Corona yang makin banyak ini, kita tentu sangat prihatin, jangan sampai energi bangsa kita malah justru fokus pada hoax Virus Corona ketimbang pada pemberitaan mengenai langkah pemerintah mencegah Virus Corona masuk ke wilayah Tanah Air kita."





Dilanjutkannya, Kominfo akan terus berusaha memerangi hoax dan disinformasi melalui internet, termasuk media sosial. Cyber patrol akan terus dilakukan, blokir hoax akan terus digencarkan. (*)





Editor : Alfiansyah Anwar


Kamis, 30 Januari 2020

Properti Berkedok Syariah Picu Tingginya Penipuan Konsumen


Dr. Syahriyah Semaun, S.E.,M.M





Pengamat ekonomi & ketua Prodi Akuntansi Syariah





Opini. Masyarakat Indonesia akhir-akhir ini dikejutkan rentetan maraknya penipuan, baik  berkedok investasi bisnis instan untuk menghasilkan uang seperti money game, MLM (multi level marketing). Investasi dengan sejumlah dana dengan iming-iming pengembalian yang besar. Tidak sedikit korbannya yang menjual harta benda demi janji keuntungan dan bonus return yang akan didapat tanpa memikirkan resiko apabila terjadi penipuan. Kenyataannya banyak yang menjadi korban dan melapor ke pihak berwajib.





Berbagai modus serupa, sebut saja  tawaran promo travel haji dan umrah untuk menghimpun uang jamaah tetapi dana tersebut diinvestasikan ke usaha lain. Masyarakat sangat mudah tergiur dan tertipu dengan kalimat "umrah promo". Contoh kasus First Travel yang diduga melakukan penipuan, penggelapan dan money laundry jamaah umrah dan haji.





Rentetan kasus serupa yakni penipuan properti berkedok syariah.
Penipuan ini berbentuk penjualan perumahan murah dengan teknik pemasaran
berkonsep syariah. Mereka mengiming-iming pembayaran tanpa riba, tanpa bunga
kredit dan tanpa pengecekan bank oleh Bank Indonesia yang biasa blacklist nasabah.





Tergiur kemudahan dan keuntungan, masyarakat tidak lagi jeli
dan berhati-berhati mencermati serta menyikapi iming-iming yang ditawarkan
pengembang. Sebelum membeli, konsumen seharusnya perlu untuk memeriksa
kredibilitas pengembang properti yang menawarkan rumah tersebut sudah terdaftar
sebagai anggota asosiasi REI (Real Estate
Indonesia
) secara resmi. Mengembangkan suatu bisnis perumahan tidak semudah
yang dibayangkan. Tidak ada yang salah dengan konsep syariah, tetapi dalam
mengembangkan proyek perumahan yang padat modal tetap perlu pengaturan
manajemen yang baik. Umumnya mereka atau pengembang perumahan tidak tahu cara
manajemen proyek yang baik karena dalam bisnis perumahan pengaturan cashflow
akan sangat krusial.





Maraknya modus penipuan properti syariah dipicu pula perilaku ekonomi konsumen atas keinginan yang tinggi terhadap kepemililikan property dengan dana yang terbatas. Kondisi ini dibaca pelaku kriminal ekonomi melalui pengembang property fiktif, kemudian melancarkan serangan kepada konsumen dengan iming-iming rumah harga murah, bebas riba, tanpa bunga, tanpa sita, tidak perlu Bank Indonesia checking untuk mengecek kredibilitas calon user atau nasabah dan lain sebagainya. Jadi bernuansa syariah semuanya, sehingga calon user tertarik. Segala macam teknik meyakinkan dilakukan agar masyarakat tertarik. Peneyebarluasan informasi dengan membuat brosur-brosur gambar rumah dengan berbagai type disertai tabel angsuran dan mengadakan pertemuan antara pengembang perumahan dengan calon korban atau para user. Sindikat juga membawa korbannya kesebuah lahan fiktif yang diakuinya akan dijadikan lokasi pembangunan rumah yang dijanjikan. Hal inilah yang membuat korban juga semakin percaya dengan sindikat penipuan ini.





Produsen sebagai pelaku bisnis dalam perekonomian sangat
besar kontribusinya dalam pengembangan dan pembangunan ekonomi di Indonesia di
mulai dengan UMKM sampai badan usaha perseroan yang besar. Jadi sangat
disayangkan apabila badan usaha tersebut melakukan sindikat penipuan kepada
masyarakat atau konsumen.





Disatu sisi, Konsumen dalam hal ini masyarakat, apabila
menginginkan sesuatu terkait peningkatan taraf hidup dan tingkat perekonomian
tanpa melakukan usaha, maka sebuah tindakan ekonomi absurd yang sangat tidak
mungkin. Konsumen mesti membangun sebuah pemikiran dan pertimbangan matang
bahwa, Peningkatakan ekonomi selalu memerlukan konsekuensi yang relevan seperti
faktor-faktor produksi, sumber daya alam, sumber daya manusia, modal dan
keahlian. Artinya, tidak ada yang dapat dimiliki tanpa usaha kerja keras dan
pengorbanan. No gain without pain.


Selasa, 28 Januari 2020

Website yang Menyita Fokus


Oleh : Sirajuddin, Pustakawan IAIN Parepare





OPINI -- Pasca pengumuman pihak Inspektorat Jenderal Kemenag RI, Jumat (17/01/2020) pada perhelatan Rapat Koordinasi Nasional Kebijakan Pengawasan (Rakornasjakwas) di Jakarta, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare mengukir prestasi membanggakan di tingkat nasional.





Kampus yang terletak di Jalan Amal Bakti, Soreang ini dinobatkan sebagai peringkat 1 peraih penghargaan pemberitaan bidang pengawasan tahun 2019.





Sekretaris Jenderal Kemenag RI, menyerahkan langsung penghargaan tersebut kepada Rektor IAIN Parepare, Ahmad Sultra Rustan.





Penghargaan ini merupakan apresiasi Inspektorat Jenderal Kemenag RI atas keberhasilan IAIN Parepare dalam mengakselerasi pemberitaannya. Baik secara kualitatif mau pun kuantitatif sepanjang tahun 2019 ini.





(Diberitakan Humas IAIN Parepare pada 17/01/2020 dengan head line "Peringkat 1, Rektor Terima Penghargaan dari Sekjen Kemenag RI").





Hal inilah sebagai starting point atau titik pangkal terbentuknya pengelola website IAIN Parepare yang diupgrade dari pengelolaan sebelumnya. Kini website akan melibatkan partisipan dari setiap unit pada IAIN Parepare yang terdiri dari tenaga dosen dan tenaga kependidikan.





Ini adalah kolaborasi yang apik dengan merekrut beberapa Sumber Daya Manusia (SDM). IAIN Parepare yang dianggap kompeten dan berpotensi mengangkat, memberitakan seluruh event oleh rektor dibahasakan bahwa website ini adalah room of IAIN Parepare.





Website iainpare.ac.id nantinya diharapkan gencar mempublikasikan perhelatan yang ada di kampus hijau toska IAIN Parepare. Tentunya dengan informasi yang sesuai dengan tageline IAIN Parepare, "Malebbi Warekkadanna, Makkiade Ampena."













Halaman Selanjutnya





Menurut penulis ada beberapa fakta menarik ............













Menurut penulis ada beberapa fakta menarik dari kolaborasi dan pendelegasian pengelolaan website kampus ini; pertama, para SDM dipilih langsung oleh Rektor IAIN, Ahmad Sultra Rustan, sekaligus dalam satu kesempatan membuka acara rapat perdana didampingi Kepala Biro Administrasi dan Keuangan IAIN Parepare, Hj Musarrafah Amin. Dalam kesempatan tersebut rektor memberi sambutan positif sekaligus memotivasi kru untuk menjalankan kegiatan ini sebagai amanah; kedua, sebagai Civitas Akademik yang mendapat tugas mengelola website ini adalah tugas yang menantang dan menggelitik, tantangannya rektor mengamanahakan "jangan sekedar memberitakan beberapa event tapi buatlah headline dan konten berita itu seseksi mungkin, menantang dan menarik untuk dibaca". Yang saya bisa bahasakan dengan out of mainstream, (mainstream sendiri menurut kamus diartikan "Arus utama" atau "kurang lebih bermakna biasa").





Fakta ketiga, sebagai warga informasi atau information community ini adalah pembelajaran tanpa SKS. Dimana semua waktu dan event harus dicermati sebagai sikap reaktif terhadap stimulus dengan memberi respon pemberitaan yang akurat. Dan inilah yang saya sebut pembelajaran tanpa batas waktu, dan menyambung penyampaian Suherman atau Bang Suhe'' (sapaan akrab saya untuk Wakil Redaktur Website Kampus yang juga Kepala Bagian Humas IAIN Parepare) yang didampingi Redaktur, Nurhakki, bahwa, "Pemberitaan ini wajib konsistent dilaporkan setiap jam 9 pagi setiap harinya sebagai ukuran kinerja pemberitaan."….Teman duduk ada yang bergumam .. Wahh serem juga … Tapi Ok bang … Sebagai penulis, ini adalah konsekuensi dari sebuah tugas dan cara melepaskan, mereduksi habituasi di zona nyaman.
Fakta ke-empat di kegitan ini kita berkolaborasi dipertemukan oleh pemberita pemberita muda oleh pak Rektor dibahasakan "fresh on the oven" h h h ….ini gaya komunikasi Pak Rektor untuk menyemangati teman-teman komunitas website yang masih muda dan sebagai ice breaking atau pemecah kondisi kita yang mungkin out of focus.





Di beberapa kondisi ke depan akan banyak hal menarik dan menantang dan melahirkan fakta-fakta tentang kinerja yang kita bangun. Ada pesan bijak dari seorang penulis legendaris sebagai pemantik animo menulis bagi teman dan untuk saya pribadi bahwa; "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian." (Pramoedya Ananta Toer).





Tidak banyak hal yang bisa saya sampaikan tentang pemberitaan, beberapa stimulus akan muncul sebagai pembelajaran dari teman- teman yang kompeten dan dari proses yang kita lakoni, sebagai pialang informasi. Hal ini akan memunculkan self esteem untuk memperjuangkan maruah lembaga dengan menjadi insan yang literat karena, "Penyebaran berita bohong dapat menyebabkan perpecahan bangsa. Jadi ya hati-hati. Entah motifnya ekonomi, motif politik tidak boleh seperti itu," Pesan Joko Widodo, Presiden RI. (*)






Minggu, 22 September 2019

Menghadirkan (Ruh) al- Quran


Opini





Oleh Budiman, S.Ag., M.H.I. (Wakil Dekan Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum Islam IAIN Parepare)





Alquran membumi setelah sebelumnya melangit bukan tanpa alasan. Ia 'turun' dengan sejumlah misi, dan misi utamanya adalah untuk menjadi hudan (panduan) bagi segenap manusia dalam hidup dan kehidupannya.





Selain itu, Alquran adalah Annur dan Nur (cahaya). Kedua terma ini menunjuk pada nama dan fungsi Alquran yang dapat bermakna "cahaya" yang menerangi bumi, langit, hati, bahkan semesta.





Agaknya tidak berlebihan apabila dinyatakan bahwa proses penyebarluasan cahaya di bumi melalui Alquran dimulai saat Baginda Nabi SAW hijrah dari Mekah ke Yatsrib.





Itu sebabnya ketika menetap di Yatsrib, Baginda Nabi mengubah nama Yatsrib menjadi Madinah Munawwarah (kota/peradaban yg tercahayakan).





Dalam ungkapan lain, hijrah Baginda Nabi merupakan proses "transmisi cahaya" yang secara kasat mata akumulasi cahaya itu telah rampung tatkala berakhirnya pewahyuan dan dengan adanya upaya para sahabat untuk mengkodifikasi Alquran secara fisik yang sampai saat ini telah mengalami inovasi kreatif disesuaikan dengan kebutuhan umat.





Wujud tampilan fisik Alquran dari masa ke masa mengalami penyesuaian. Ia "ada" di setiap rumah muslim dan ini tentu menggembirakan. Namun, kabar buruknya, keberadaan Alquran belum sepenuhnya "hadir" di dalam hati sebagian umat.





Alquran menuntun manusia untuk menebarkan positive thingking di tengah-tengah kehidupan, yang mengemuka adalah justru sebaliknya.





Alquran memberi pencerahan bagi manusia untuk membiasakan kesantunan bertutur dan kesopanan berprilaku, yang terjadi malah sebaliknya.





Alquran mengenalkan rambu-rambu dalam berinterkasi antarsesama dengan mengedepankan sikap saling mengerti, memahami dan memaklumi (ta'aruf), yang tersaji sebaliknya.





Alquran mendorong manusia untuk menebar kedamaian di tengah-tengah hiruk-pikuk kehidupan, yang terlihat di permukaan adalah pemandangan sebaliknya.





Bahkan hal-hal yang sifatnya sederhana pun bisa berubah seolah-olah rumit dan terkesan menyentuh wilayah keyakinan seringkali menjadi pemantik untuk dijadikan komoditi debat kusir yang ujung-ujungnya menafikan pihak lain.





Karenanya, selain "proyek peng-ADA-an" fisik kitab suci ini, juga tak kalah pentingnya adalah "proyek peng-HADIR-an" ruh atau spirit di balik upaya mengeja huruf-huruf Alquran itu agar ia fungsional sebagaimana misi awalnya.[]





Pasar Lakessi, Parepare
22 September 2019


Minggu, 01 September 2019

Budiman Sulaiman Bawakan Taushiyah Peringatan Tahun Baru Islam di Kota Parepare


Humas IAIN Parepare --- Pemerintah Kota Parepare menggelar peringatan tahun baru Islam, 1 Muharram 1441 H dengan melaksanakan zikir dan taushiyah di Masjid Raya, Sabtu malam, 31/8/2019. Dosen IAIN Parepare, Budiman Sulaiman, S.H.,M.H.I., menjadi pembawah taushiyah pada acara tersebut.





Acara zikir dan taushiyah yang dilaksanakan ba'da Shalat Magrib ini, dihadiri Wakil Walikota Parepare, H.A. Pangeran Rahim, Kepala Kementerian Agama Parepare, Kapolresta Parepare, para pejabat struktural dan fungsional Pemkot, Tim Safari Zikir TP Center, Jamaah dan sejumlah tokoh masyarakat. Nampak juga hadir, Wakil Rektor IAIN Parepare H. Muhammad Shaleh, yang juga Ketua Majelis Anak Shaleh Kota Parepare.





Dalam taushiyahnya, utstadz Budiman Sulaiman mengurai peristiwa dan makna hijrah Rasulullah Saw. "Hijrah adalah gambaran perjuangan Rasulullah Saw untuk menyelamatkan aqidah. Nabi hijrah dari Makkah ke Madinah bukan takut mati tapi karena Rasulullah Saw pada waktu itu masih minoritas. Dalam sejarah disebutkan pengikut Islam saat itu baru sekitar 100 - 200 orang. Rasulullah Saw dan pengikutnya dibaikot di Makkah sehingga kehidupannya bersama para sahabat mengalami penderitaan yang luar biasa, baik secara fisik mau pun secara ekonomi. Tiga tahun, Rasulullah Saw dan para sahabat hanya makan daun karena kaum Quraiys memboikot dan melarang perdagangan qandum dan makanan pokok lainnya".





"Karena perjuangan menyelamatkan aqidah, maka Rasulullah Saw atas perintah Allah Swt melalui malaikat Jibril melakukan hijrah dari kota Makkah menuju kota Madinah," urai Budiman Sulaiman, yang menjabat sebagai Wakil Dekan pada Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum Islam IAIN Parepare.
Rasulullah Saw memiliki kesabaran yang luar biasa tingginya, lanjut Budiman dalam taushiyahnya, beliau tidak pernah menyerah dan membalas kekejaman kaum Quraiys tersebut. Andai Rasulullah mau, cukup beliau berdoa kepada Allah Swt untuk menghancurkan kaumnya, seperti yang dilakukan para Nabi sebelumnya. Tetapi beliau tak sedikit pun mengeluh, menyerah dan berdoa untuk itu.





"Di situlah, keluhuran dan ketinggian akhlak Rasulullah Saw. Keburukan dan kejahatan tidak pernah dibalas dengan keburukan yang sama. Rasulullah Saw adalah rahmatan lil alamin. Jadi, intisari ajaran Islam adalah rahmatan lil alamin. Islam harus jadi cahaya penerang di sekitarnya. Tidak boleh jadi gelap dan menggelapkan masyarakat," urai ustadz Budiman Sulaiman, yang dikenal dengan seruan-seruan kemanusiaannya.
Ustadz Budiman juga mengapresiasi Pemerintah Kota Parepare. Menurutnya, perjuangan Pemerintah Kota Parepare telah memancarkan "nur budi atau bercahaya". Ada berbagai program yang telah memancarkan cahaya tersebut. Seperti pemberangkatan umrah bagi imam-imam Masjid dan adanya tim zikir yang mempelopori gerakan zikir di kota Parepare. Program ini lah yang akan menebarkan cahaya dan penerang bagi masyarakat", kuncinya.


Selasa, 20 Agustus 2019

ENERGI HASBALAH DI ZONA HAWQALAH (Bag. 2)


OPINI





By. Budiman S.H., M.H.I (Wakil Dekan Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum Islam IAIN Parepare)









Kisah Nabi Ibrahim 'alaihissalaam menunjukkan bahwa beliau memiliki kecerdasan akal yang tinggi. Tetapi dia tidak hanya mengandalkan kecerdasan akal saja dalam mencari dan memperjuangkan ajaran tauhid. Di samping akal, beliau memiliki kecerdasan hati yang suci, tanpa noda dan kekeruhan di dalamnya.





اذ جاء ربه
بقلب سليم





Kita mesti
berupaya untuk mengasah kecerdasan akal dan hati secara integral dan seimbang.
Untuk mendekatkan diri kepada Allah, tidak bisa hanya semata-mata menggunakan
akal, apalagi IQ. Akal memang mesti didayagunakan, sebab agama hanyalah untuk
orang yang berakal. Tetapi akal yang dimaksud adalah akal yang tidak
bertentangan dengan hati nurani.





Sebab
acapkali kita jumpai orang yang mengedepankan rasionalitasnya dan mengabaikan
bahkan membohongi hati nuraninya. Mereka mengakal-akali suatu kesalahan agar
diterima sebagai suatu kebenaran dengan maksud dan tujuan tertentu untuk kepentingan
diri dan kelompoknya.





Ibadah
haji sarat dengan simbol. Seseorang baru bisa mengecap manisnya haji mabrur,
jika ia mampu menerapkan dalam kehidupan bermasyarakat makna simbol dalam
ibadah haji itu. Wuquf di Arafah, misalnya, yang menjadi inti dan puncak
syariat haji adalah simbol pengenalan terhadap jati diri manusia yang kerap
terabaikan. Arafah yang berakar dari kata عرف (kenal) salah satu maknanya
adalah "padang pengenalan".





Wuquf di
Arafah adalah momentum mengenali jati diri sebagai manusia. Jati diri manusia
bukan dilihat dari wujud lahiriahnya. Karena itu di Arafah seluruh simbol
pembungkus lahiriah ditanggalkan dan diganti dalam bentuknya yang paling
sederhana, pakaian ihram. Kain putih tak berjahit, yang bermakna tanpa status,
tanpa atribut, simbol pakaian terakhir yang dikenakan ketika manusia meninggal
dunia.





Kunjungan
ziarah ruhani manusia ke tanah suci seolah simulasi kematian dan gladi bersih
manusia memasuki alam akhirat. Orang yang berziarah ke dua tanah suci
hakikatnya sedang berziarah ke alam akhirat. Yang menempel di dirinya hanya dua
helai kain putih sebagai simbol kematian, kain kafan.





Tidak
boleh memakai wangi-wangian, tidak boleh menggunting kuku, tidak boleh ini dan
itu, karena hakikatnya ia sedang mati, dan sebagaimana layaknya orang mati,
tidak dapat bergerak, tidak dapat memotong kuku dan lainnya. Pendeknya, ibadah
haji dan juga kurban merupakan ajakan kepada seluruh manusia untuk "mati
sebelum mati" atau "mati dalam hidup".


Rabu, 14 Agustus 2019

ENERGI HASBALAH DI ZONA HAWQALAH (Bag. I)


OPINI





By. BUDIMAN, S.H.,M.H.I (Wakil Dekan Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum Islam IAIN Parepare)





"Kalimat Hasbalah", حسبنا ﷲ ونعم الوكيل ini kelihatannya dzikir sederhana, namun sarat makna yang luar biasa. Dzikir menandakan bahwa seorang hamba hanya pasrah kepada Allah dan menjadikan Allah sebagai tempat bersandar. Dzikir, wirid dan doa memang memiliki energi yg dipancarkan Allah dlm bentuk nur (cahaya). Nur Allah itu merupakan energi mutlak yg mengalahkan semua energi lainnya. Sifat energi yg bersumber dari Nur Allah itu bermacam-macam. Ada yg halus, lembut, keras, kasar, lentur, panas, dingin dan lainnya.





Dzikrullah adalah cara terbaik utk memulihkan kekuatan kita, mengakses sumber daya tanpa batas yang ada di sisi Allah, asalkan dzikir dilakukan dengan ikhlas dan pasrah sepenuh-penuhnya kepada Allah. Sudah lupa dan tidak perduli lagi apakah doanya dikabulkan karena telah larut dalam kenikmatan dzikrullah. Saat seperti itu, Nabi Ibrahim 'alaihissalaam memasuki "zona hawqalah", wilayah kepasrahan total-mutlak kpd Allah:





لا حول ولا قوۃ الا بالله





Itulah sebabnya mengapa Nabi Ibrahim 'alaihissalaam tidak terbakar dlm kobaran api. Api yg sangat besar pun menjadi tunduk pada perintah Allah, sehingga berubah menjadi dingin demi keselamatan Nabi Ibrahim 'alaihissalaam (QS. Al-Anbiyaa [21]:69):
قُلْنَا يٰنَارُ كُوْنِی بَرْدًا وَسَلٰمًا عَلٰی اِبْرٰهِيْمَ





Anregurutta Ibnu 'Abbas mentadabburi ayat ini dengan sebuah pernyataan menarik:
لَوْ لَمْ يَقُلْ سَلٰمًا لَمَاتَ اِبْرٰهِيْمُ مِنْ بَرْدِ النَّارِ وَبَقِيَتْ ذَات بَرْدٍ أَبَدًا





"BennengE dee' nakkeda puangE "salaaman" (mappassalaama'), maatei Nabi Ibrahim nataro cekke' ri lalenna api mallumpa-lumpaE nennia macekke' mattaruui apiE naraapii makkokkuaE". (Andaikata Allah tdk berfirman "salaaman", Nabi Ibrahim akan mati kedinginan dalam kobaran api dan api itu akan dingin permanen sampai detik ini).





Nabi Ibrahim 'alaihissalaam masyhur dengan kerendahan hatinya. Hal ini terekam dalam ayat 127 QS. al-Baqarah:
واذ يرفع ابرٰهيم القواعد من البيت واسمٰعيل ربنا تقبل منا انك انت السميع العليم





Ayat ini mengintrodusir ketawadhu'an, rasa takut/khawf dan harap/rajaa' Nabi Ibrahim 'alaihissalaam bersatu dengan seimbang.





Membangun Baitullah adalah ibadah yg agung. Namun Nabi Ibrahim 'alaihissalaam tetap berdoa agar Allah menerima ibadahnya karena yg terpenting dari suatu amal adalah ketika amal itu diterima. Setinggi apapun derajat kita, niscaya kita selalu membutuhkan Allah agar Dia menerima amal ibadah kita.





Renungkanlah, Nabi Ibrahim 'alaihissalaam saja yg khaliilurrahmaan masih berdoa kepada Allah agar amalnya diterima. Doa ini dapat memberangus sikap 'ujub dan takabbur dlm jiwa, sebab suatu amal tidaklah dilakukan dan suatu kejadian menimpa diri kita melainkan atas kehendak Allah. Karenanya amat disayangkan jika masih terdengar ucapan, misalnya: "iyya' makkareeso, iyya' majjaama atau iyya' manrasa-raasa" (Aku yang berkarya, aku yg bekerja, atau aku yang pontang-panting).





Ucapan ini dan semacamnya adalah ucapan Qarun di abad modern yg sejatinya substansinya sama yaitu sikap angkuh dan takabbur yg menafikan Allah dan menyepelekan andil orang lain.


Rabu, 22 Mei 2019

Peringati Nuzulul Quran, Yasin Soumena; Pemimpin Harus Berpegang pada al-Quran


Humas IAIN Parepare--- M. Yasin Soumena, menuturkan bahwa pernah mendengar pesan dari gurunya, Prof.Dr. Abd. Muin Salim, ada dua hal penting yang sangat diharapkan dalam peringatan Nuzulul Quran. Pertama, untuk mendapatkan berkah dari Alquran sebagai hidayah. Kedua, untuk mendapatkan berkah dari Alquran sebagai rahmatan.





Alquran adalah hidayah Allah. Melalui peringatan Nuzulul Quran kita harapkan agar nilai-nilai Alquran bisa menjadi petunjuk dan teraktualisasi dalam kehidupan sehari-hari. Terutama bagi para pemimpin di negeri ini. Sebab jika petunjuk Alquran mereka jalankan dengan benar, maka akan berhati-hati dalam menjalankan tugas kesehariannya.





Kedua, Alquran sebagai rahmatan, pembawa kebaikan bagi seluruh umat manusia. Jadi kebaikan yang terdapat dalam Alquran bukan semata-mata untuk umat Islam. Kebaikan atau rahmatan yang terdapat dalam Alquran akan mengayomi dan memberi ketenteraman bagi seluruh manusia.





Bagi negeri tercinta ini, kata Wakil Dekan Bidang AUPK FEBI IAIN Parepare, masalah berkah jelas sangat dibutuhkan. Sebab ketenteraman menjadi prasyarat utama bagi kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Apalagi dalam menghadapi situasi kekinian pascapemilu 2019, hikmah Nuzulul Quran sangat dibutuhkan bagi semua komponen yang terlibat dalam proses pemilu tersebut.





Sayangnya, lanjut Yasin Soumena, peringatan Nuzulul Quran selama ini masih sebatas serimonial belaka. Buktinya, setiap tahun kita rayakan secara besar-besaran tapi nilai-nilai yang terdapat dalam perayaan Nuzulul Quran itu terlupakan ketika menata pemerintahan. Kita menganggap itu hanya ritual belaka. Kebanyakan dari kita hanya menganggap agama sebatas hubungan dengan Allah belaka, sehingga kita menangani sosial-kemasyarakatan, kadang mengabaikan norma-norma agama.





Seperti yang dituturkan Muin Salim, ketika kita shalat, ingatan kita ke Tuhan sangat tinggi dan khusu’. Tapi saat kita berada di kantor, pasar, dan tempat kerja, Tuhan malah terlupakan. Jadi kekhusuan masih sebatas dalam shalat. Tidak dirasakan sebagai satu bagian dalam kehidupan, ujar Yasin Soumena menirukan contoh yang dikemukan oleh gurunya itu.





Umat Islam perlu memperbanyak ibadah dan doa di malam Nuzulul Quran, dan sepuluh malam terakhir Ramadan. Perlu memperbanyak doa yang tulus dan ikhlas kepada Allah SWT, agar bangsa kita mendapat rahmat dan hidayah, sehingga rakyatnya bisa sejahtera dan pemimpinnya amanah. Tidak perlu kita lakukan persiapan khusus. Beribadalah seperti biasanya, walau kita mengharapkan berkah Lailatul Qadri, seperti yang dijanjikan Nabi Muhammad SAW, Ujar Yasin.





Menurut bapak kelahiran Ambon ini, gurunya itu berpesan, kita tidak boleh terjebak dalam pemahaman yang keliru bahwa, beribadah karena mengharapkan Lailatul Qadri. Ibadah dengan niat untuk mendapatkan Lailatul Qadri adalah tidak murni. Dan ingat, hanya ibadah yang murni yang dapat diterima oleh Allah SWT.


Selasa, 21 Mei 2019

Peringati Nuzulul Quran, Yasin Soumena; Pemimpin Harus Berpegang pada al-Quran


Humas IAIN Parepare--- M. Yasin Soumena, menuturkan bahwa pernah mendengar pesan dari gurunya, Prof.Dr. Abd. Muin Salim, ada dua hal penting yang sangat diharapkan dalam peringatan Nuzulul Quran. Pertama, untuk mendapatkan berkah dari Alquran sebagai hidayah. Kedua, untuk mendapatkan berkah dari Alquran sebagai rahmatan.






Alquran adalah hidayah Allah. Melalui peringatan Nuzulul Quran kita harapkan agar nilai-nilai Alquran bisa menjadi petunjuk dan teraktualisasi dalam kehidupan sehari-hari. Terutama bagi para pemimpin di negeri ini. Sebab jika petunjuk Alquran mereka jalankan dengan benar, maka akan berhati-hati dalam menjalankan tugas kesehariannya.






Kedua, Alquran sebagai rahmatan, pembawa kebaikan bagi seluruh umat manusia. Jadi kebaikan yang terdapat dalam Alquran bukan semata-mata untuk umat Islam. Kebaikan atau rahmatan yang terdapat dalam Alquran akan mengayomi dan memberi ketenteraman bagi seluruh manusia.






Bagi negeri tercinta ini, kata Wakil Dekan Bidang AUPK FEBI IAIN Parepare, masalah berkah jelas sangat dibutuhkan. Sebab ketenteraman menjadi prasyarat utama bagi kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Apalagi dalam menghadapi situasi kekinian pascapemilu 2019, hikmah Nuzulul Quran sangat dibutuhkan bagi semua komponen yang terlibat dalam proses pemilu tersebut.






Sayangnya, lanjut Yasin Soumena, peringatan Nuzulul Quran selama ini masih sebatas serimonial belaka. Buktinya, setiap tahun kita rayakan secara besar-besaran tapi nilai-nilai yang terdapat dalam perayaan Nuzulul Quran itu terlupakan ketika menata pemerintahan. Kita menganggap itu hanya ritual belaka. Kebanyakan dari kita hanya menganggap agama sebatas hubungan dengan Allah belaka, sehingga kita menangani sosial-kemasyarakatan, kadang mengabaikan norma-norma agama.






Seperti yang dituturkan Muin Salim, ketika kita shalat, ingatan kita ke Tuhan sangat tinggi dan khusu’. Tapi saat kita berada di kantor, pasar, dan tempat kerja, Tuhan malah terlupakan. Jadi kekhusuan masih sebatas dalam shalat. Tidak dirasakan sebagai satu bagian dalam kehidupan, ujar Yasin Soumena menirukan contoh yang dikemukan oleh gurunya itu.






Umat Islam perlu memperbanyak ibadah dan doa di malam Nuzulul Quran, dan sepuluh malam terakhir Ramadan. Perlu memperbanyak doa yang tulus dan ikhlas kepada Allah SWT, agar bangsa kita mendapat rahmat dan hidayah, sehingga rakyatnya bisa sejahtera dan pemimpinnya amanah. Tidak perlu kita lakukan persiapan khusus. Beribadalah seperti biasanya, walau kita mengharapkan berkah Lailatul Qadri, seperti yang dijanjikan Nabi Muhammad SAW, Ujar Yasin.






Menurut bapak kelahiran Ambon ini, gurunya itu berpesan, kita tidak boleh terjebak dalam pemahaman yang keliru bahwa, beribadah karena mengharapkan Lailatul Qadri. Ibadah dengan niat untuk mendapatkan Lailatul Qadri adalah tidak murni. Dan ingat, hanya ibadah yang murni yang dapat diterima oleh Allah SWT.


Rabu, 08 Mei 2019

RAMADAN; PENJEMPUTAN YANG KELIRU?


Opini





M. Yasin Soumena





Dosen dan Wakil
Dekan
Bidang AUPK FEBI
IAIN Parepare





RAMADAN, sebuah istilah ritual yang sudah melembaga dalam setiap hati muslim. Term Ramadan, penuh dengan berbagai keunikan dan keistimewaan, sehingga sebahagian masyarakat muslim yang mendengar kedatangannya pasti mengucapkan Ahlan Wa Sahlan Ya Ramadan “Selamat Datang Ya Ramadan”.





Sebahagian
masyarakat Islam lebih menggunakan tahniah yang sangat halus lagi, yakni Marhaban Ya Ramadan, yang bermakna “luas
atau lapang”. Setiap tahun, bulan ini hadir di tengah-tengah komunitas muslim
dalam memberi nuansa baru untuk manata hidup dan kehidupannya.





Kini,
bulan Ramadan itu datang lagi. Tapi sayangnya, tidak semua orang muslim senang
dengan kedatangannya. Mengapa? Karena bulan ini hanya diperuntukan bagi orang
yang beriman. Jadi yang tidak memiliki nilai-nilai keimanan otomatis tidak
ingin didatangi oleh bulan mulia ini.





Bagi
mereka yang beriman, pasti terharu dan gembira, bahkan meneteskan air mata kegembiraan
karena masih diberi kesempatan oleh Allah swt menjumpai tamu agung ini. Mereka
menganggap bahwa ini adalah tamu istimewa yang perlu dijemput.





Perlu
dijemput dengan suasana lapang dada dan penuh kegembiraan, kesucian hati,
penetesan air mata, menyiapkan suasana rumah yang bersih, menampakan wajah yang
berseri keharuan, bukan menggerutu, dan suasana indah lainnya.





Ini
terjadi seperti layaknya seorang yang baru bertemu tamu tercinta dan sangat
dirindukan setelah berpisah selama satu tahun. Siapapun pasti merasakan hal
yang sama ketika berpisah dengan tamu yang sangat disenangi dan dicintai,
kemudian dipertemukan kembali setelah setahun berpisah.





Apalagi
saat berpisah tahun lalu diwarnai “lambaian tangan” dan isak tangis
mengharukan. Bagi tamu agung ini, kita siap atau tidak, kita terima atau tidak,
kita jemput atau tidak ia pasti berada di tengah-tengah kita untuk melihat
suasana kehidupan selama satu tahun tersebut.





Persiapan





Menurut
Quraish Shihab, term marhaban
menggambarkan tamu yang datang perlu di sambut dan diterima dengan dada lapang,
penuh kegembiraan serta disiapkan ruangan yang luas untuk melakukan segala yang
diinginkannya. Dengan demikian, lanjut Quraish Shihab, Marhaban Ya Ramadan mempunyai konotasi bahwa kita menyambutnya
dengan penuh kegembiraan, tidak menggerutu, dan tidak menganggap kehadirannya
mengganggu ketenangan atau suasana nyaman kita.





Kita
siapkan tempat yang luas agar bebas melakukan apa saja yang berkaitan dengan upaya
mengasuh dan mengasah jiwa kita. Sayangnya, kita sering keliru memahami
kesiapan dalam menyambut bulan Ramadan. Kita bisa saja mudah mengucapkan Marhaban Ya Ramadan, tapi menjadi tanda tanya
apa yang perlu kita siapkan.





Bisakah
kita mengelak dan menjawab secara retorika bahwa kita sudah siap mental dan
fisik.Tapi jawabannya tentu tidak sampai di situ karena orang lain akan melihat
apa di balik tingkah laku seorang dalam menyambut bulan ini.





Banyak
orang telah siap mental dan fisik, tapi tempat dan lingkungan yang akan dihuni
tamu agung ini sungguh menyedihkan. Jauh dan tidak layak bagi seorang tamu
bernama Ramadan.





Coba
lihat praktik orang-orang di wilayah paling timur negeri ini, masyarakat Islam
di pesisir pantai daerah Maluku. Kebiasaan yang sudah membudaya, yakni setiap
menjelang bulan Ramadan semua peralatan rumah dibawa ke sungai atau laut untuk
dibersihkan.





Rumah
dan lingkungan dicat dan dibersihkan dari debu atau kotoran yang dianggap dapat
mengganggu pelaksanaan ibadah puasa, sehingga saat masuk bulan Ramadan hidup
mereka terasa bersih dan nyaman. Mereka membersihkan rumah dan halaman bukan
menjelang hari raya Idul Fitri, tapi menjelang Ramadan.





Ini
berbeda dengan yang dipraktikan di daerah ini (Sulsel). Sebahagian besar
masyarakat membersihkan rumah dan lingkungan menjelang lebaran. Prinsip baku
dan sudah merupakan “warisan” nenek moyang, biar hidup dalam suasana apa
adanya, nanti menjelang lebaran baru dibenahi.





Konotasinya,
ternyata yang disiapkan bukan untuk tamu agung itu, tapi tamu antar sesamanya. Terasa
malu jika tamu yang datang berhaalal bi
halal
melihat suasana rumahnya tidak indah. Tapi tidak merasa malu ketika
tamu agung yang datang itu melihat suasana rumah dan lingkungannya penuh
kotoran.





Tamu
agung ini tentu akan bertanya, bisakah Anda berpuasa dengan baik jika
lingkunganmu tidak sehat? Jawabannya, bisa “ya” dan bisa “tidak”, tergantung
manusianya. Karenanya, perlu dirubah pola pikir dan praktik kita, bahwa
sebaiknya pembersihan rumah dan lingkungan itu dilakukan menjelang Ramadan,
bukan menjelang lebaran. Sebab, yang lebih diutamakan adalah Ramadannya, bukan
lebaran.





Wallahu ‘Alam bi
al-Sawab


Selasa, 07 Mei 2019

RAMADAN; PENJEMPUTAN YANG KELIRU?


Opini





M. Yasin Soumena





Dosen dan Wakil
Dekan
Bidang AUPK FEBI
IAIN Parepare





RAMADAN, sebuah istilah ritual yang sudah melembaga dalam setiap hati muslim. Term Ramadan, penuh dengan berbagai keunikan dan keistimewaan, sehingga sebahagian masyarakat muslim yang mendengar kedatangannya pasti mengucapkan Ahlan Wa Sahlan Ya Ramadan “Selamat Datang Ya Ramadan”.





Sebahagian
masyarakat Islam lebih menggunakan tahniah yang sangat halus lagi, yakni Marhaban Ya Ramadan, yang bermakna “luas
atau lapang”. Setiap tahun, bulan ini hadir di tengah-tengah komunitas muslim
dalam memberi nuansa baru untuk manata hidup dan kehidupannya.





Kini,
bulan Ramadan itu datang lagi. Tapi sayangnya, tidak semua orang muslim senang
dengan kedatangannya. Mengapa? Karena bulan ini hanya diperuntukan bagi orang
yang beriman. Jadi yang tidak memiliki nilai-nilai keimanan otomatis tidak
ingin didatangi oleh bulan mulia ini.





Bagi
mereka yang beriman, pasti terharu dan gembira, bahkan meneteskan air mata kegembiraan
karena masih diberi kesempatan oleh Allah swt menjumpai tamu agung ini. Mereka
menganggap bahwa ini adalah tamu istimewa yang perlu dijemput.





Perlu
dijemput dengan suasana lapang dada dan penuh kegembiraan, kesucian hati,
penetesan air mata, menyiapkan suasana rumah yang bersih, menampakan wajah yang
berseri keharuan, bukan menggerutu, dan suasana indah lainnya.





Ini
terjadi seperti layaknya seorang yang baru bertemu tamu tercinta dan sangat
dirindukan setelah berpisah selama satu tahun. Siapapun pasti merasakan hal
yang sama ketika berpisah dengan tamu yang sangat disenangi dan dicintai,
kemudian dipertemukan kembali setelah setahun berpisah.





Apalagi
saat berpisah tahun lalu diwarnai “lambaian tangan” dan isak tangis
mengharukan. Bagi tamu agung ini, kita siap atau tidak, kita terima atau tidak,
kita jemput atau tidak ia pasti berada di tengah-tengah kita untuk melihat
suasana kehidupan selama satu tahun tersebut.





Persiapan





Menurut
Quraish Shihab, term marhaban
menggambarkan tamu yang datang perlu di sambut dan diterima dengan dada lapang,
penuh kegembiraan serta disiapkan ruangan yang luas untuk melakukan segala yang
diinginkannya. Dengan demikian, lanjut Quraish Shihab, Marhaban Ya Ramadan mempunyai konotasi bahwa kita menyambutnya
dengan penuh kegembiraan, tidak menggerutu, dan tidak menganggap kehadirannya
mengganggu ketenangan atau suasana nyaman kita.





Kita
siapkan tempat yang luas agar bebas melakukan apa saja yang berkaitan dengan upaya
mengasuh dan mengasah jiwa kita. Sayangnya, kita sering keliru memahami
kesiapan dalam menyambut bulan Ramadan. Kita bisa saja mudah mengucapkan Marhaban Ya Ramadan, tapi menjadi tanda tanya
apa yang perlu kita siapkan.





Bisakah
kita mengelak dan menjawab secara retorika bahwa kita sudah siap mental dan
fisik.Tapi jawabannya tentu tidak sampai di situ karena orang lain akan melihat
apa di balik tingkah laku seorang dalam menyambut bulan ini.





Banyak
orang telah siap mental dan fisik, tapi tempat dan lingkungan yang akan dihuni
tamu agung ini sungguh menyedihkan. Jauh dan tidak layak bagi seorang tamu
bernama Ramadan.





Coba
lihat praktik orang-orang di wilayah paling timur negeri ini, masyarakat Islam
di pesisir pantai daerah Maluku. Kebiasaan yang sudah membudaya, yakni setiap
menjelang bulan Ramadan semua peralatan rumah dibawa ke sungai atau laut untuk
dibersihkan.





Rumah
dan lingkungan dicat dan dibersihkan dari debu atau kotoran yang dianggap dapat
mengganggu pelaksanaan ibadah puasa, sehingga saat masuk bulan Ramadan hidup
mereka terasa bersih dan nyaman. Mereka membersihkan rumah dan halaman bukan
menjelang hari raya Idul Fitri, tapi menjelang Ramadan.





Ini
berbeda dengan yang dipraktikan di daerah ini (Sulsel). Sebahagian besar
masyarakat membersihkan rumah dan lingkungan menjelang lebaran. Prinsip baku
dan sudah merupakan “warisan” nenek moyang, biar hidup dalam suasana apa
adanya, nanti menjelang lebaran baru dibenahi.





Konotasinya,
ternyata yang disiapkan bukan untuk tamu agung itu, tapi tamu antar sesamanya. Terasa
malu jika tamu yang datang berhaalal bi
halal
melihat suasana rumahnya tidak indah. Tapi tidak merasa malu ketika
tamu agung yang datang itu melihat suasana rumah dan lingkungannya penuh
kotoran.





Tamu
agung ini tentu akan bertanya, bisakah Anda berpuasa dengan baik jika
lingkunganmu tidak sehat? Jawabannya, bisa “ya” dan bisa “tidak”, tergantung
manusianya. Karenanya, perlu dirubah pola pikir dan praktik kita, bahwa
sebaiknya pembersihan rumah dan lingkungan itu dilakukan menjelang Ramadan,
bukan menjelang lebaran. Sebab, yang lebih diutamakan adalah Ramadannya, bukan
lebaran.





Wallahu ‘Alam bi
al-Sawab