Rabu, 19 Februari 2020

Jabatan adalah Amanah


Oleh: M. Yasin Soumena (Wakil Dekan II Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam)





OPINI --- Sungguh terharu dan gembira pasti Anda rasakan saat mendapat gelar “pemimpin”. Tapi jangan Anda lupa bahwa gelar itu diperoleh dengan sebuah perjanjian demi Allah dan disaksikan banyak orang. Bukan itu saja, Al Quran yang berada di atas kepala pun turut menjadi saksi dan siap “menegur” Anda jika mengingkari sumpah yang diikrarkan itu.





Kini, Anda resmi disebut pejabat, atau paling-tidak sudah punya kedudukan yang Anda mimpikan selama ini. Tapi, berhati-hatilah dengan sumpah, DEMI ALLAH. Jangan Anda mengira bahwa baju jas atau kerudung cantik yang Anda pakai pada saat bersumpah itu sesuatu yang sepele, sedang jas dan kerudung itu acapkali menjadi kusut atau robek bila dipakai secara terus menerus.





Apakah Anda mengira bahwa, sumpah itu akan Anda alami secara terus menerus, sedang suatu saat Anda akan duduk seperti tamu-tamu yang hadir menyaksikan Anda. Semua akan lepas dan musnah sesuai seleksi alam.





Karenanya, laksanakan tugas mulai itu untuk menata dan membina diri Anda. Kemudian menata dan membina orang lain. Betapa tersiksa perasaan seseorang manakala Anda duduk di kursi “empuk”, mengendarai mobil dinas serba baru, sementara rakyat, bawahan atau karyawan yang ada di sekitar Anda, mengeluh tidak bisa duduk dan tidak bisa mendapat fasilitas mobil, karena “sakit” yang dideritanya.





Menurut Quraish Shihab, agama mengingatkan bahwa jabatan/kepemimpinan bukan keistimewaan tapi tanggung jawab; ia bukan fasilitas tapi pengorbanan; ia bukan leha-leha tapi kerja keras; ia juga bukan kesewenangan bertindak tapi kewenangan melayani; ia adalah pelopor keteladanan berbuat.





Jabatan pun bukan sarana pembalasan dendam, tapi sebagai pengayom, menghimpun semua komunitas. Pesan Alquran, “Janganlah kebencianmu kepada satu kaum menjadikanmu tidak berlaku adil (terhadap mereka)”. Bahkan berusaha untuk menzalimi mereka.





Jangan contohi tindakan sejumlah khalifah Bani Abbas. Ketika berkuasa, ia tidak mungkin membunuh musuh-musuhnya dari kalangan Bani Umayyah yang lebih dahulu meninggal. Akhirnya, yang dilakukan adalah membongkar kuburan-kuburan mereka. Jasad yang sudah menjadi tulang belulang pun dicambuk, dipaku di tiang salib, dan dibakar. Ini benar-benar pembalasan dendam yang kelewat batas, yang sebenarnya akan memupuskan semua kesenangan dan mencemarkan keindahan dan ketetapan jiwa.





Di negeri terhormat ini pun, jabatan digunakan sebagai sarana balas dendam. Ketika Soeharto lengser misalnya, semua kroni-kroninya diminta juga untuk lengser; terjadi aksi pematokan lahan-lahan yang diduga milik keluarga Soeharto. Demikian pula terjadi pemutasian orang-orang yang bukan koleganya. Tetapi terakhir ini banyak dipraktikkan di berbagai instansi, dari pusat sampai daerah, termasuk di dunia perguruan tinggi.





Pesan ‘Aidh al-Qarni, bahaya selalu mengancam orang yang selalu ingin membalas dendam, sangat besar. Dia telah kehilangan kendali terhadap syarafnya, telah kehilangan ketenangannya, dan telah kehilangan rasa kedamaiannya. Bentuk kezaliman yang Anda lakukan sangat besar dampaknya terhadap orang yang dizalimi, dan bahkan terhadap diri Anda sendiri. Ia merupakan sumber segala kejahatan dan pangkal segala keburukan.





Hati-hati terhadap orang yang Anda zalimi, karena doa mereka tidak ada pembatas/hijab antar mereka dengan Allah SWT, dan ketulusan sebuah doa muncul tatkala rasa sakit mendera. Cobalah amati di seputar Anda, ada orang sebelum ajal menjemput tidak bisa berjalan, hanya merangkak sambil memakan kotorannya; ada orang tidak bisa makan dan meraung seperti harimau; ada yang lumpuh separuh badannya jika dihinggapi lalat terasa seperti digergaji; ada juga stroke berbulan-bulan bahkan tahunan; dan berbagai bentuk keanehan penyakit lainnya yang tidak diketahui penyebabnya oleh sang dokter. Inilah yang disebut dengan seleksi alam.





Karenanya, tanamkanlah dalam diri Anda untuk selalu membuat orang lain meneteskan air mata, bahkan menangis karena bentuk kemanusiaanmu. Tapi janganlah Anda membuat orang lain meneteskan air mata, bahkan menangis karena bentuk kezalimanmu. Jika itu yang Anda lakukan, maka tunggulah SELEKSI ALAM. Seleksi alam itu lebih keras daripada seleksi manusia.





Jabatan yang Anda sandang pasti berakhir, dan berusaha akhiri amanah itu dalam keadaan husnul khotimah, jangan sebaliknya. Kata Rasul, “Jabatan adalah amanah dan ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan di hari kemudian, kecuali yang menerimanya dengan hak serta menunaikannya dengan baik.” Penghianatan terhadap sumpah jabatan akan menyulut api kebencian dan amarah dari pemberi amanah, juga akan merusak tatanan nilai dalam lingkungan di mana amanah itu dijalankan. (*)






Selasa, 18 Februari 2020

Rektor Sambut Kedatangan Tim Auditor BPK RI


Humas IAIN Parepare --- Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare, Ahmad S. Rustan menyambut dan menerima Tim Auditor Badan Pemeriksaan Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) di ruangan kerjanya, Selasa, 18/2/2020. Nampak hadir mendampingi Rektor, para Wakil Rektor I, II dan III, Kepala Biro AUAK, dan Kepala SPI.





Kehadiran Tim Auditor BPK RI di kampus IAIN Parepare dalam rangka melakukan pemeriksaan terhadap laporan pertanggung jawaban keuangan tahun anggaran 2020. Sesuai dengan schedule yang telah ditetapkan. Tim Auditor BPK RI ini akan menjalankan tugasnya di IAIN Parepare selama 3 hari, yaitu 18-20 Februari 2020.





Rektor IAIN Parepare, Ahmad S. Rustan saat menyambut Tim Auditor BPK RI menyampaikan apresiasi dan menerima kehadiran Tim Auditor BPK RI secara terbuka untuk melaksanakan pemeriksaan di IAIN Parepare. "Silahkan teman-teman auditor melaksanakan tugasnya dan kami akan terbuka dan welcome untuk itu," sambut Rektor di depan Tim BPK.





"Kami meyakini apa pun hasil dari pemeriksaan tersebut akan memberikan kontribusi dan menjadi bahan evaluasi terhadap pengembangan IAIN Parepare pada masa datang. Untuk itu kami mempersilahkan dan mengijinkan teman-teman tim auditor melakukan pemerikasaan. Meski pun waktu pemeriksaan di luar waktu dinas, Silahkan saja. Itu agar pemeriksaannya berjalan efektif dan selesai tepat waktu," kata Rektor.





Berdasarkan Surat Tugas nomor : 4/ST/VII-XVIII/01/2020 yang dikeluarkan BPK RI, Tim Auditor BPK RI yang bertugas di IAIN Parepare terdiri dari 4 orang. Tim ini di Ketuai oleh Denier dan masing-masing anggotanya, yaitu Hanang Supanto, Aditya Bagus Sampurno, dan Dimas Hermawan Siswanto. Mereka ditugaskan melakukan pemeriksaan atas Laporan Keuangan Kemenag RI tahun 2019, khususnya Satker Kemenag di Wilayah Sulawesi Selatan. Termasuk IAIN Parepare.


Mahasiswa Apresiasi Pelaksanaan Rapat Kerja di Bali


Humas IAIN Parepare --- Pelaksanaan Rapat Kerja Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare yang sukses dilaksanakan selama 4 hari di Bali diapresiasi positif oleh mahasiswa. Ketua Senat Mahasiswa (SEMA) dan Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) IAIN Parepare memberikan pernyataan dan apresiasi atas penyelenggaraan Rapat Kerja tersebut, Ahad, 16/2/2020.





Foto bersama Rektor, Wakil Rektor III, Ketua Dema dan Ketua Sema




Aco Budi selaku Ketua Senat Mahasiswa mengaku jika dirinya sangat serius mengikuti Rapat Kerja tersebut. "Banyak informasi dan pengetahuan yang kami peroleh dari tempat ini. Hal tersebut, tentu saja menjadi bekal dan referensi bagi kami untuk merancang program kerja organisasi kemahasiswaan pada masa datang," kata Aco Budi.





Ketua Senat Mahasiswa ini merasa terkesan dan menilai proses pelaksanaan Rapat Kerja sebagai sesuatu yang luar biasa. "Itu karena program kerja yang dibahas cukup visioner dan sesuai dengan tujuan bapak Rektor untuk membangun kampus eduwisata dan Islami," paparnya.
Menurutnya, tempat Rapat Kerja yang berlokasi di Bali sudah sangat sinkron dengan tujuan bapak Rektor yang ingin membangun kampus eduwisata.









"Bali adalah pusat wisata di Indonesia dan saya kira sangat relevan dengan tujuan bapak Rektor," ungkapnya memberi dukungan. Dia pun berjanji, akan mengajak pengurus organisasi kemahasiswaan dalam lingkup IAIN Parepare agar menyusun program kerja yang akan mendukung tujuan Rektor IAIN Parepare dalam mewujudkan kampus eduwisata dan Islami.





Hal senada diungkapkan Ketua Dewan Mahasiswa (DEMA), Riecardi saat dimintai keterangannya. "Saya sangat mengapresiasi pelaksanaan kegiatan ini. Karena melalui Rapat Kerja, kita membicarakan kepentingan dan masa depan kampus. Saya berharap program kerja yang dihasilkan dapat bersinergi dengan kepentingan kami di organisasi kemahasiswaan," katanya.





Dia pun berkomitmen untuk mengawal kebijakan kampus, baik kebijakan di bidang anggaran mau pun pelaksanaan program kerja pada masa datang. Riecardi yang terpilih sebagai Ketua DEMA melalui pemilihan langsung juga memuji pelaksanaan Rapat Kerja yang menurutnya berlangsung luar biasa.





Seperti yang diberitakan sebelumnya, Rapat Kerja ini berlangsung selama 4 hari dengan agenda yang sangat padat. Hari pertama, diawali dengan pembukaan pada pukul 13.30 wita. Dilanjutkan dengan materi dari Rektor dan dua narasumber dari Kemenag RI yang baru berakhir jam 24.15 wita malam. Hari ke kedua adalah presentasi dan review program kerja, juga berlangsung hingga dini hari. Review ini berlanjut pada hari ke tiga dan baru selesai pada hari ke empat jelang penutupan.


IAIN Parepare Menuju Kampus Eduwisata


Humas IAIN Parepare --- Ahmad S. Rustan mengusung gagasan menarik tentang pengembangan kampus IAIN Parepare pada masa datang. Rektor akan mengembangkan IAIN Parepare sebagai kampus eduwisata. Gagasan tersebut disampaikannya pada saat menutup acara Rapat Kerja di Hotel J4 Kuta Bali, Ahad, 16/2/2020.





Penyerahan dokumen hasil Rapat Kerja




Menurutnya, kampus eduwisata itu akan menjadi daya tarik dan distingsi IAIN Parepare bagi masyarakat khususnya bagi generasi milenial. Konsep eduwisata merupakan suatu program yang menggabungkan unsur kegiatan wisata ke dalam kegiatan pendidikan. "Kita akan mengadopsi desain estetika yang kita saksikan di beberapa destinasi wisata di Bali untuk kita kembangkan di kampus.






Foto bersama peserta Rapat Kerja





Secara fisik, kampus IAIN Parepare memiliki panorama alam yang cukup eksotik. Geografis kampus yang bebukitan dengan hamparan lautan yang tepat di depan kampus merupakan potensi yang menarik untuk dieksplorasi menjadi destinasi wisata di dalam kampus.





Menurut Rektor, perguruan tinggi yang berbasis eduwisata merupakan kampus harapan masa depan yang akan diidam-idamkan generasi milenial hari ini. "Jika ada perguruan tinggi yang tidak mampu berubah dan hanya melaksanakan tri dharma perguruan tinggi tanpa ada polesan dan daya tarik, maka saya yakin perguruan tinggi tersebut akan ditinggalkan oleh masyarakat dan stakeholdernya," paparnya.





Secara terbuka, Rektor menyampaikan kepada seluruh pimpinan fakultas, lembaga, UPT dan unit kerja agar kembali ke kampus untuk melakukan perubahan-perubahan sepulang dari Bali. "Mengapa kita memilih Bali sebagai lokasi Rapat Kerja? Karena kita ingin meniru bagian-bagian tertentu yang ada di Bali dalam mewujudkan kampus eduwisata. Kami berharap kepada pimpinan unit agar menangkap inspirasi dari apa disaksikan dan mengembangkannya kampus," papar Rektor.


Lontara Paseng: Spirit Menghargai Budi


Oleh: Dr Agus Muchsin, M. Ag  (Wakil Dekan Bidang AUPK Fakultas Syariah dan Hukum Islam IAIN Parepare)





IAIN PAREPARE ---- Narekko purani riaccinaungi passiring bolana tauwe tempeddinni rinawa-nawa maja





Artinya :
Kalau kita sudah berteduh di bawah atap rumahnya seseorang, sudah tidak boleh lagi dibenci (diusahakan ia binasa).





Pappaseng to riolo kali ini menarik untuk didalami karena di satu sisi menanamkan sikap menghargai budi orang lain bisa berdampak positif, namun sebaliknya di sisi lain berdampak negatif ketika diperhadapkan dengan ahli retorika dengan kemampuan pertunjukan aksi penguasaan panggung untuk mengelabui mata, atau sebut saja sandiwara politik.





Diskusi ini marak bukan hanya di kalangan akademisi konsentrasi politik, tapi hampir semua stratifikasi sosial menjadikannya sebagai isu hangat seperti di pasar, pangkalan ojek, pos roda, warung kopi, kampus, masjid dan lain-lain.





Konklusi dari fenomena diskusi bebas tersebut berkisar pada kreadibilitas para pelakon politik yang sepertinya telah menanamkan kebaikan.
"Tempedding inawa-nawa maja" secara leksikal dalam pemaknaan lontara, sederhananya adalah tidak boleh berharap agar ia celaka. Term ini mendeskripsikan bahwa etika bugis juga mengenal klasifikasi antara perbuatan oleh hati dan perbuatan badan/jasad.





Nawa-nawa dalam perspektif Islam biasa ditemukan beberapa term antara lain, اهمية الي السوء ( pengharapan pada keburukan ) dan سوء الظن ( prasangka buruk ). Apapun namanya, keduanya merupakan bentuk perbuatan hati (العملية القلب). Artinya sangat tidak ber etika bagi orang Bugis untuk berbuat jahat/buruk pada orang yang telah menanamkan budi atas dirinya, terlebih jika dalam bentuk fisik ( العملية البدنية ).





Klasifikasi bentuk amaliah di atas, dapat dikaji melalui disiplin ilmu tasawuf, selama ini dianggap tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw, bahkan dianggap tidak berdasar. Diskusi tentang ini memang cukup panjang namun bukan berarti bahwa praktik tasawuf sebagai asumsi bahwa ia tidak ubahnya dengan mistik, lalu kemudian dilakukan penolakan secara totalitas.





Amalan hati yang awalnya sangat dipelihara oleh ahli tasawuf (sufi), sepertinya juga disadari oleh ahli fikhi (fuqaha). Ketika berbicara tentang niat, fuqaha hanya mengidentikkan dengan al Qashd (tujuan), bahwa segala sesuatu itu tergantung pada tujuannya (الامور بمقاصدها). Fuqaha menilai bahwa tujuan itu dianggap sebagai pelanggaran jika ada indikator perbuatan berbarengan dengan pembuktian (فرينة), lebih jelasnya pembahasan ini ditemukan pada kajian tujuan unifikasi dan penetapan hukum dari aspek subyeknya (مقاصد المكلف).





Berbeda dengan ulama tasawuf (sufi), gerak hati yang begitu lembut dan sangat rahasia tanpa indikator perbuatan fisik dari "nawa-nawa kaja" pun dilarang, karena perbuatan ini merupakan penyakit hati dan mematikan hati.





Betul bahwa orang Bugis mudah percaya dan tidak akan pernah mau merusak meski dalam nawa-nawa ja, bagi mereka yang telah menanamkan kebaikan pada dirinya, namun satu kali melakukan keburukan akan menghilangkan kepercayaannya.





Ciceng mi tu aruntukeng jambang ko lalenge. Ko engka tai iruntu tulu ikomi reaseng (satu kali engkau kedapatan membuang kotoran di jalanan maka berikutnya ditemukan kotoran maka tuduhan jatuh atas dirimu).





Lontara paseng ini sepertinya kembali teruji saat terjadinya pergeseran nilai sebagai dampak dari bangkitnya kekuatan ekonomi di era ini, menggiring pada materialistik dengan kesan individualustik. Kepentingan sesaat untuk sebuah jabatan, pangkat dan harta menggiring agar melakoni pentas sandiwara meski hanya kebohongan, menawarkan kebaikan dengan kedok kepalsuan agar terhindar dari "nawa nawa ja".





Allah SWT berfirman dalam QS. Albaqarah(2): 89
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالْآخِرَةِ ۖ فَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنصَرُونَ
Terjemahnya:
Mereka menukar kehidupan akhirat dengan dunia, maka Allah tidak meringankan adzab bagi mereka dan tidak akan ditolong





Imam al Thabari menyebutnya sebagai bentuk sikap kecintaan berlebihan pada ni'mat dunia yang sedikit, sementara kecintaan ni'mat akhirat yang banyak diminimalkan ( استحبوا قليل النيا علي كثير الاخرة ). Parahnya adalah ketika didominasi oleh rasionalisme secara filosofis membatasi hidup pada alam forma, alam idea diabaikan. Padahal dalam eksatologi, idea merupakan awal dari segala forma.





Pesan bijak melalui lontara di atas, sebaiknya tetap dipelihara dan dijadikan referensi, sikap terhadap orang yang menanamkan kebaikan tidak langsung bisa diterima melainkan butuh klarifikasi sebelumnya melalui sifat aninireng (wara) dengan penuh pertimbangan, dengan tetap berdasar pada akulturasi agama dan budaya Bugis. (*)





Editor : Alfiansyah Anwar


Senin, 17 Februari 2020

Rapat Kerja Hasilkan 240 Paket Program Kerja


Humas IAIN Parepare --- Rapat Kerja Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare yang diselenggarakan selama 4 hari, yaitu 13-16 Februari 2020 di Hotel J4 Kuta Bali berjalan efektif dengan menghasilkan sekitar 240 program kerja untuk tahun anggaran 2021.





Kepala Ma'had al- Jamiah, Abu Bakar Juddah presentasi di depan tim reviewer jelang acara penutupan




Hal tersebut terungkap dari laporan yang disampaikan Hj. Musyarrafah Amin selaku Ketua Panitia pada acara penutupan Rapat Kerja IAIN Parepare, Ahad, 16/2/2020. Menurut Hj. Musyarrafah Amin yang juga menjabat Kepala Biro AUAK, Rapat kerja ini sukses menghasilkan dokumen program kerja yang cukup banyak karena peserta sangat serius mengikuti semua sesi dan agenda yang direncanakan.









Untuk menghasilkan 240 program kerja ini, membutuhkan proses yang cukup panjang dan sangat padat. Kurang lebih 14 satuan unit kerja yang terdiri dari fakultas, lembaga, UPT, dan sub bagian dalam lingkup IAIN Parepare melalui proses dan tahapan review. Mereka harus berhadapan dan mempresentasikan usulan program kerjanya di depan tim reviewer. Tim reviewer terbagi 2, yaitu reviewer TOR dan reviewer RAB. Tidak jarang program kerja yang diusulkan harus diganti atau dirombak jika tidak sesuai ketentuan.





"Teman-teman tidak mengenal waktu dalam mengikuti sesi ini. Siang malam bahkan sampai larut malam untuk hadir dan mengikuti agenda Rapat Kerja". Bahkan menurutnya, Rektor pun tak pernah alpa pada setiap sesi acara, baik untuk memantau atau pun memberi arahan kepada peserta. Hal itu, tentu saja menjadi sesuatu yang luar biasa yang ditunjukkan para pimpinan dan peserta Rapat Kerja yang patut diapresiasi.





"Sebuah semangat yang luar biasa dan saya kira ini adalah semangatnya OKemi" pujinya yang disambut tepuk tangan peserta. OKemi adalah tagline yang digunakan panitia dalam pelaksanaan Rapat Kerja yang ingin menunjukkan bahwa kesiapan dan hasil pekerjaan yang selalu siap dan OK.


Upaya Peningkatan Kinerja Melalui Outbound


Humas IAIN Parepare --- Hari ke tiga pelaksanaan Rapat Kerja IAIN Parepare diisi dengan kegiatan outbound, Sabtu, 15/02/2020. Kegiatan ini dipusatkan di The Blooms Garden yang terletak di Banjar Batusesa, Kabupaten Tabanan, Bali. Panitia pelaksana menggandeng jasa konsultan dan travel Maharaja sebagai pelaksana outbound tersebut.









Menurut Hj. Musyarrafah Amin selaku Ketua Panitia, kegiatan outbound dilaksanakan sebagai upaya peningkatan kapasitas dan kinerja pegawai dalam lingkup IAIN Parepare, khususnya para pimpinan lembaga yang menjadi peserta Rapat Kerja kali ini. "Outbound merupakan upaya meningkatkan kebersamaan, sinergisitas, kerjasama, melatih kesabaran dan kedisiplinan. Tujuannya agar terbentuk tim kerja yang solid dalam lingkup IAIN Parepare sehingga menghasilkan kinerja yang semakin baik dan lebih produktif, " kata Kabiro AUAK ini.









Pantauan kami di lokasi, pelaksanaan outbound diawali dengan menembak beberapa balon di udara yang dilakukan oleh Rektor bersama dengan Wakil Rektor dan Kepala Biro AUAK. Keberhasilan mereka meledakkan balon-balon tersebut diiringi dengan keluarnya spanduk dari atas udara ucapan selamat datang kepada peserta outbound IAIN Parepare. Hal tersebut, menandai acara outbound segera dimulai.





Kegiatan outbound berlangsung semarak. Peserta mengikuti dengan semangat dan antusias. Mereka menyatu dan berbaur tanpa sekat satu dengan lainnya. Bahkan Ahmad S. Rustan selaku Rektor yang turut serta sebagai peserta outbound bergabung dengan penuh keceriaan dan canda tawa diantara para peserta. Rektor mengikuti seluruh paket permainan outbound sama dengan peserta lain, melaksanakan instruksi dari instruktur outbound.





Ahmad S. Rustan mengapresiasi kegiatan outbound yang berlangsung separuh hari tersebut. "Kegiatan outbound ini menjadi media pembelajaran yang memberikan banyak makna dan manfaat bagi kita semua. Melalui outbound ini kita belajar tentang kedisipilinan, ketekunan, kesabaran, kebersamaan, dan kerjasama dalam tim", paparnya saat menutup kegiatan Rapat Kerja. "Interbehavior itu penting dan harus menjadi mindset kita dalam membangun tim kerja yang solid dan kuat," pungkasnya.